10 Fakta yang Wajib Diketahui Sebelum Jalan- Jalan ke Yangon, Myanmar

23 Oktober 2014

Buseett... akhirnya kakiku menginjak tanah Myanmar juga. Ini bisa terjadi bukan akibat panas bumi yang sedang bergejolak di perut Jakarta. Bukan... Tidak penting sih daya magnet sekuat apa yang sanggup menarik jiwa dan ragaku untuk bisa melihat lebih dekat negara yang banyak sekali pagodanya. Dan, aku di Yangon, mengurangi daftar negara ASEAN yang mau aku datangi. 

Sebelum memulai arisan kali ini, " Bu Endang.. silakan kocok.." Ya ealla, emang ketemu emak- emak rempong di airport? Ada baiknya kita kembali ke beberapa tahun yang lalu, sebelum adam dan hawa bertemu, kelamaan ya.. baca dulu ulasan tips :

" Cari tempat nyaman buat inap di KLIA2 " 
" Jangan Sampai Ketinggalan Pesawat di KLIA2 " 
" Pilihan dari KLIA2 ke KL Sentral "

Sekarang, baiknya kita kembali ke masa kini, kalau gak, tar kejebak loh dimasa lalu.. Please #MoveOn donk..

Myanmar, konon katanya ada 3 kota yang bisa dikunjungi wisatanya, Yangon, Bagan dan Mandalay. Aku bukan ahli geografi, so, tidak ada penjelasan soal luas wilayah, tata letak kota, jumlah penduduk, ibukota , konflik internal mereka, cantiknya tante Aung San Suu Kyi, sampai seterusnya.
" Anak- anak , kita sudah sampai dimana pelajaran sebelumnya ?"
" Yangon pak guru.." jawab serempak satu kelas.

Okelah, karena demikian, kita bahas tentang Yangon saja, karena saya memang hanya ke Yangon. Titik.

Aku mulai dari nol ya teman- teman, hitungan sampai seribu. 1,2,3,4,5,.... sudah belum.? #Sepi.

1. Aku diturunkan di Yangon Internasional Airport.

" Minggir bang ..."  naik angkot kali.
Bandara kebanggaan orang Myanmar ini tergolong biasa saja menuju lumayan lah. Tolong, jangan dibandingkan dengan Agnes Monica, karena mereka belum Go Internasional.

Tentu , sudah ber-AC, bersih dan okey lah. Modelnya jauh dari Changi Airport, KLIA, Hongkong Internasional Aiport, dan mungkin Kuala Namu masih jauh lebih bagus. Bangga jadi orang tanah Batak. Horas bah..

Officer airport kan petugas negara juga bukan ya? Mereka sih ramah ya,  pakai seragam keren , putih - putih. Celana dan baju lengan panjang, sempak, haizz, tak taulah awak... Penampilan yang bagus sih, tapi sayang, sebagian dari mereka masih bebas pakai sandal alias bukan sepatu, bukan juga sepatu pesta.

2. Bebas masuk tanpa VISA.

Intinya, pemegang paspor hijau seperti aku, kamu, orang Indonesia, bisa masuk ke Myanmar tanpa harus repot buat Visa untuk 14 hari perjalanan wisata.

3. Tukar mata uang Kyatt

Butuh satu perjuangan juga untuk bisa lolos dari imigrasi yang officernya terkesan ketat, memasang wajah superhero komedi sinetron Indonesia, pakai pentongan , wajah dikasih cat biru, hijau gitu.

Antrian yang panjang untuk ukuran wisatawan yang masuk tidak banyak. Ya sudahlah, jangan banyak protes, atau kamu dideportasi kenegara ketiga. Dimana itu? Tanyaku bingung.

Kamu bakal lewati beberapa counter yang jual mata uang Kyatt, dengan penawaran harga yang berbeda- beda. Pilihlah sesuai hatimu, jangan pilih yang kamu tidak suka ya. Menderita banget tuh, kalau cinta dipaksain.

Kyatt, mata uang resmi dan hanya bisa didapatkan di Myanmar, masak di restoran Padang. Untuk bisa tukar uang mereka, hanya bisa pakai Dollar US dan Dollar Singapore, sepertinya ada satu mata uang lagi, lupa.

Well, 100 Dollars US = 992 Kyatts ( 1 Kyatt = Rp 12,18 ).  Ini best price loh bang, kata si neng yang jualan di counter itu. Aku malah minta promo buy get one free donk.

Tips penting :

" Dollar kamu harus edisi baru, biar dapat harga tertinggi disana, tidak boleh kusam, tidak boleh ada coretan, tidak boleh lecet apalagi kelipat. Resikonya , dihargai lebih murah dan dollar kamu pasti ditolak ".

Selain Kyatt, transaksi di market, belanja ini itu, makan, tidur, transportasi, mereka juga terima Dollar juga. Dengan kurs, 1000 Kyatts = 1 Dollar.

4. Dijemput gratis dari pihak hotel.

Untuk menghemat pengeluaran, carilah hotel yang memberi tumpangan gratis antar jemput. Sekali perjalanan 10 Dollar. Coba dikumpulin, bisa beli rumah gedongan loh. Butuh waktu yang lama sih..hehe..

Tapi harus sesuai dengan jadwal mereka ya. Bukan jadwal kamu masuk kantor di Jakarta.

5. Sarung Lonyi, Tanakha dan Sirih

Kayak artis superstar saja, saat aku melangkah keluar dari pintu utama. Orang- orang Yangon pada berdiri rapi diantara pembatas pagar yang dibuat, supaya artis hebat kek aku bisa gampang jalannya. Semua membawa papan bertuliskan nama .

Felt Deeply #Myanmar #Longyi
" I love @ranselahok , welcome Yangon " Semua pada teriak- teriak nama aku. #Rupanyahanyadalam mimpi.

Pastinya, aku yang mencari nama yang tertera diantara sekian banyak papan itu. Adakah nama beken ini tercantum? Oh no.. jika sampai tidak, aku akan tuntut management hotel yang telah berjanji padaku untuk menjagaku seumur hidup.

Hore..ada, aku berpelukan dengan abang- abang yang jemput kami. Dia langsung pingsan. Bayangkan baunya aku yang belum sempat mandi dari kemaren sore.

Dan,

Semua diantara mereka, memakai sarung. Bukan celana. Dalaman pakai? Tidak tahu.... Sarung atau yang disebut Longyi adalah pakaian tradisional mereka dari jaman purbakala dan dipertahankan hingga sekarang.

Seisi kota, sepanjang jalan, ke pasar, ke kantor, jalan kaki, kemana saja, hampir selalu dipenuhi orang- orang yang memakai Longyi. Bukan mau Jumatan ya...

Kebiasaan mempercantik diri menjadi prioritas utama orang Yangon. Sehari- hari, dari pagi, sore, malam, entah cowok- cewek, tua muda, pasti memakai Tanakha. Sejenis krim yang dioleskan di pipi kanan kiri gitu. Katanya sih untuk membuat kulit wajah lebih segar, melindungi kulit dari sinaran matahari. Mereka juga suka bawa payung, ya cowok juga.

Tanakha di pipi
Ya begitu, saat kerjapun mereka memakainya, di jalanan, di restoran, di airport, dimanapun.

Kebiasaan lain mereka, mengunyah sirih. Bayangkan saja, cowok muda, cewek cantik, ngunyah sambil jalan , sambil bicara. Ini mengingatkan aku kampung halamanku.

Jual Sirih
6. Bahasa dan perbedaan waktu.

Sedikit sekali orang lokal Yangon yang bisa berbahasa Inggris. Untunglah, hotel yang menampung aku, resepsionisnya bisa melakukan komunikasi 2 arah dengan aku. Hubungan kami jadi lancar.

Mereka pakai bahasa lokal, Burmese. Susah sekali dipahami, begitu juga mereka pasti pusing 7 hari 7 malam , saat mendengarkan bahasa kebanggaan kita, bahasa Indonesia.

Tulisannya sudah bukan seperti di Thailand, yang mirip cacing, disini lebih ke kotak- kotak, bulat- bulat, jadi seperti kembali ke masa TK dulu, belajar menggambar.

Di Yangon, lebih lambat 30 menit dari Jakarta. Terang dan gelapnya langit, hampir sama dengan kita, yang ada di WIB,

7. Setir kiri dan hati- hati saat mau nyebrang.

Berbeda dengan Indonesia, Malaysia dan Singapore, Myanmar malah mengadopsi anak. Huahaha... Kok adopsi anak sih, mereka adopsi setir sebelah kiri. Jadi kamu harus hati- hati saat ingin menyebrang jalan. Keseharian kita selalu melihat ke kanan dulu , disini tidak berlaku ya, demikian halnya KTP kamu , disini juga tidak berlaku.

Lihat jalanan ini...
Arus lalu lintas mereka berbeda, berbalik dengan kita. Nyebrang, lihat kiri dulu, karena mobilnya datang dari kiri, baru pindah lihat ke kanan. Jangan lihat cewek cantik ditengah jalan, bisa- bisa , almarhum, wek..

Seramnya, mereka bawa mobil kencang- kencang loh. Mereka sanggup bawa mobil? #kuatbanget #Gagalfokus

Mereka, patuh lalu lintas. Tidak pernah terlihat oleh pantauan aku, mereka nyelonong lampu merah. Lagian juga, tidak kelihatan Pak Polisi yang sembunyi dibalik pohon sih. Payah..

Kemana- mana, pakai jalan kaki, naik taxi dan car rental, sesuaikan dengan itenerary kamu.

Tips buat naik taxi : keluarkan ilmu pencak silat kamu, ya apalagi tak lain bukan untuk tawar menawar.

Sepertinya mereka memang belum ada yang namanya motor. Sepeda sih ada.

8. Makanan,

Cocok saja dengan makanan disini. Sama seperti makanan di Indonesia. Harganya termasuk murah jika dibandingkan dengan Indonesia. Untuk makanan halal, saya sih kurang tau ya. Mereka juga tawarkan makanan vegetarian.

Banyak didapatkan gorengan seperti jajanan dipinggir jalan Thailand, Singapore, Hongkong dan Malaysia.

KFC, Pizza, Mc Donald belum hadir. Mereka telat sih..

Jajanan pasar, kue- kue, hampir sama dengan punya kita. Rasanya juga tidak jauh berbeda. Kue lapis, kue apem, wajik.

Pepaya, nenas, pisang, jambu krutuk, semangka menjadi buah yang paling banyak dan gampang ditemukan di jalanan. Mereka menjual begitu saja, buah dipotong, terus dipajang, tanpa ditutup. Kamu mau beli , pepaya sepotong 500 kyatt, manis dan berdebu sih.. wakakak...

Berani makan? Aku sudah..
Belalang, makanan favorit. Digoreng dan dijual bertumpuk -tumpuk disisi jalan.. #PemenangXFactor terbanyak ya dari sini.. #ngasal.

Sebotol air mineral 1500 ml seharga 2000 kyatt, 2500 kyatt, 3000 kyatt, tergantung mereknya. Bisa lebih mahal beli ditempat wisata.

Belum ada tempat nongkrong sepel. Jadi kamu tidak perlu capek- capek tanya orang lokal, Loe anak sepel mana bro?

Ada satu market lokal saja yang menjadi raja disana. Diberi nama ABC oleh orangtuanya saat lahir, pakai tumpeng dan potong kambing gak ya? Mungkin buat teman- teman Muslim, lebih aman belanja makanan di smart market ini, ada tulisan halal atau tidak.

9. Tinggal dimana ?

Pilihan hostel, guesthouse , budget hotel sampai hotel berbintang tersedia disini. Karena rombongan kecil , aku pilih numpang saja di budget hotel, Ocean Pearl Inn,  kali saja tidak dipungut biaya.

Tempatnya alakadar, AC, kamar mandi dalam, tempat tidur terpisah ( untuk bertiga ), dengan tv tidak bisa nyala dan rada bau apek. Semalam, kami harus bayar 38 USD ( triple room ). 

Sarapan pagi yang sama, telur dadar, plus 2 potong roti tawar dipanggang, toppingnya selai nenas, strawberry, kacang dan margarin, 1 pisang dan semangka potong dadu.

Dekatlah dengan beberapa tempat wisata, mau cari makan, ke Night market , dekat. Hari pertama, langsung olahraga jalan kaki, istilah kerennya, hemat biaya istilah basinya.

Si Teman, pindah budget hotel lain, MGM Hotel. Jauh lebih bersih, jauh lebih keren , jauh dari beberapa tempat wisata, dan hanya selisih 2 USD.

10. Bangunan dan tempat wisata.

Aku sudahi saja hubungi ini. Sudah capek aku menulis panjang lebar. Fiuuuh... Maka cukup 10 points saja.

Sudut kota sekitar Sule Pagoda
Ke Myanmar ya untuk lihat Pagoda. Disini kebanyakan umat Buddhis, tidak heran, kamu bakalan bertemu kangen dengan para biksu dijalanan.

Swhedagon Pagoda wajib dikunjungi. Waktu terbaik kesini, pagi buta , sesaat sebelum matahari kasih diskon ya. Dan sore menjelang malam. Menakjubkan.

Sule Pagoda, Bothataung Pagoda, Inla Lake, MahaBandoola Garden, Night Market, Bogyoke Market, City Train Tour, China Town, bisa kamu jelajahi satu per satu selama sisa hidup kamu disana.

Rumah tinggal mereka berupa bangunan bertingkat, layaknya rumah susun, tapi bukan. Layaknya ruko, tapi setiap tingkat dihuni keluarga yang berbeda. Mereka akses ke rumah masing- masing melalui tangga yang ada disamping.

Jalanan bersih , genangan air ditempat tertentu. Suasana kota yang sepi dimalam hari, padat dan macet ala Yangon disiang hari. Panas , dan sering turun hujan. Katanya sih, sisa hujan, mulai masuk ke musim panas. Kebalik bukan?

Buat teman Muslim, sedikit info nih, ada Mesjid didepan Bogyoke Market. Kudu jalan sih nyusurinya.

Ya semacam jalan kecil gitu 
Aman buat jalan - jalan kitari kota. Ini versi aku ya, jalan - jalan santai di malam hari , tempat yang lumayan sepi dan rada gelap. Penduduknya ramah dan welcome, membantu kok, walau komunikasi susah terjadi.

Tidak ada kesan Junta militer yang berjaga- jaga disana. Tidak terlihat sedikit ada sisi ketegangan yang tercipta. Konflik internal yang pernah terjadi , sama sekali tidak ditonjolkan.

Sekian ya, cukup sampai disini.. aku kembali lelah, letih , lesu. Aku butuh istirahat panjang buat trip selanjutnya... walehh...

Pengen tahu, apa dan bagaimana isi dalam tempat wisata Yangon. Simak terus , jangan kemana- mana ya..


With Love,

@ranselahok















                                                       


Share on Google Plus

About ransel ahok

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

7 komentar :

  1. wah asyik nih ke myanmar apalagi sudah dikasih beberapa hal di blog ini .

    ReplyDelete
  2. Krim yang dipakai di pipi itu tinggl di teplokin aja ya mas gak dioles. Cemilan nya serem" kalau di indonesia ada bakwan disana tongseng kecoa :D

    Main" ke blog saya ya mas, dh saya follow kamu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Creamnya kudu diolesin bro... jadi biar rata.

      siap .. ntar aku ke blog kamu ya.. makasih sudah mampir...

      Delete
  3. mantaap dehh

    http://indo-palembang.blogspot.com/

    ReplyDelete
  4. Replies
    1. Sepertinya Egy Comel paham benar tentang Yangon... terima kasih sudah bertamu ya..

      Delete

Powered by Blogger.

Popular Posts