Episode Menonton Ketika Jalan- Jalan di Yangon, Myanmar

25 Oktober 2014

Langsung loncat saja ya ke hari terakhir berada di Yangon, Myanmar. Lebih asyik bukan, jika segala sesuatu menuju puncak asmara. Sebagai penutup trip, selain kami diminta oleh pemerintah setempat, notabene ini hanya omong kosong, untuk mendatangi objek wisatanya, sore itu bersama travelmate, kami nonton. Iya nonton lenong bocah disana. Ada? Tidak tahu..

Merujuk pada satu artikel blog yang aku baca, dimana dikisahkan sepasang kekasih sedang jatuh cinta disaat ganteng- ganteng srigala datang menerkam. Halahhh... Artikel itu mengulas bagaimana serunya sang pemilik blog nonton film di rumah Tante Aung San Suu Kyi. Penasaran, membuat aku tidak mau melewati kesempatan emas itu. Berbagai cara dan akal busuk dilakukan untuk bisa menemui si Tante. 

" Tante.. sedang tidak ada dirumah nih.. Hok .." begitu kata Tante Aung sore itu melalui saluran radio yang bisa didengar satu negara.

" Sakitnya tuh disini..Tan... " balasanku  kepada Tante yang ditayangkan secara live di acara tv -tv sana, ya seperti acara alaynya Indonesia itu, yang ada lalala..yeyeye...

Butuh satu perjuangan kecil juga untuk bisa akhirnya duduk manis didalam kursi bioskop yang empuk itu. Nanti ya aku ceritainnya...

Tempat nonton.

Semua warga lokal pada nonton layar tancap bukan sih? Jawabannya tidak tahu.

Dimana warga lokal nonton film ? Jawabannya di bioskop.

Terus apa bedanya dengan aku, kamu, dia dan kita semua yang ada di Indonesia ? Jawabannya beda.

Bedanya apa dong ? Ini jawabannya...

Jangan bayangkan kalau mereka nonton film di bioskop yang ada didalam mall. Tidak. Bahkan untuk mall saja, aku tidak menemukannya, padahal aku sudah telepon polisi loh. Kan sudah lewat dari 1x 24 jam, jadinya lapor hilang. 

Bioskop, tempat menonton orang lokal, ya bioskop, berdiri sendiri, gedung tersendiri dan terpisah dari apapun itu. Ada dipinggiran jalan raya. Jika kamu orang Medan, pasti tahu, bioskop Ria , atau kota lainnya, pasti pernah punya bioskop indenpenden, tidak seperti sekarang ini, bioskop ditemukan didalam mall dan dimonopoli oleh satu perusahaan.

Ini Bioskopnya..
Mau nonton film lokal atau film asing, tempatnya beda, bioskopnya beda. Satu gedung bioskop hanya menayangkan 2 judul film. Baik bioskop untuk film lokal maupun film asing. Dan mereka semua berdekatan, tetanggaan, tidak musuhan, bahkan tidak buat tembok tinggi sebagai pembatas. 

" Neng, abang mau cari jodoh nih, disini jual tidak ?" Langsung dilempar telur busuk.

Dari loket jual tiket, aku dikasih tahu, kalau mau nonton film asing harus ke bioskopnya satu lagi. Dengan bahasa tubuh, mereka menunjukkan arah kemana aku harus berjalan, menuntun hidupku ke jalan yang benar. Akhirnya aku tahu, jodohku bukan disini. 

Susah payah mendaki gunung, melewati badai , aku sampai juga dengan selamat dipintu rumah gebetanku disana. Kubersimpah, berlutut dihadapan orangtuanya, memohon untuk izikanlah aku mencintaimu, eh salah, izinkanlah aku menikahi anaknya. #Bah...

Tunggu panggilan masuk
Kebetulan, distrik yang aku datangi, bioskop yang memutarkan film asing ada 2 dan tetanggaan juga. Masing- masing memutarkan judul film asing baru yang sama . Sekali lagi, tidak ada kata monopoli bisnis. Penonton bebas memilih bioskop sesuai dengan selera.

Mereka bukan memutarkan film asing tempo dulu seperti yang ditayangkan tv kita yang memutarkan film jadul Jacky Chan sampai ratusan kali. Judul film yang sedang hits dan teranyar. Saat itu, film The Equalizer -nya Danzel Washington yang aku nonton. Judul lainnya ada Dracula - Untold

Traumatisme yang aku dapatkan dari raja bioskop Indonesia, razia besar- besaran setiap orang yang mau masuk. Larangan membawa makanan dan minuman dari luar. Trauma itu membuat aku sadar dan bertanya-tanya pada siapa saja.

" Apakah boleh membawa barang dari luar bioskop kedalam theater bioskop ? " Pertanyaan ini menghabiskan waktu sampai 1/2 jam lebih dan tidak menemukan jawabannya.

" Ya Tuhan, lindungi Baim ya Tuhan..." aku berdoa, tetap tidak ada jawaban.

Kayak lagi tunggu sembako gratis..
Kronologinya, karena waktu, aku nonton jam 6.30 sore. Saat sebelum beli tiket, baru jam 4 pagi. Lah.. kelamaann... Selisih 2 jam 30 menit , aku ingin mensiasatinya pergi belanja ke Bogyoke Market, yang ada diseberang jalan doang, butuh jalan kaki 15 menitan sih. Walaupun, aku tidak beli apa -apa.

Niat si kawans memang belanja. Takut hasil belanjaan sampai bergoni- goni, aku memastikan, goni- goni itu boleh dibawa masuk kedalam theater. Tidak apalah, bayar uang jasa angkut. Hahaha...

Untuk memastikan, aku butuh lembur. Dari neng- neng penjual tiket, security, orang yang lalu lalang, tidak ada yang bisa memberikan satu jawaban sederhana, apakah boleh membawa barang dari luar kedalam bioskop? Pertanyaan sesederhana itu.

Google translate tidak membantu sama sekali, karena sedang sibuk mengurusi translator bahasa lainnya? Bukan. Google belum mengenal bahasa Burmese, kala itu, waktu kami disana ya. Bingung dan panik. Aku ngotot ingin nonton. Harus.

Konter jual makanan dan minuman , tapi tidak harus beli disini..
Nekad, menjadi pilihan terakhir. Resikonya, hasil belanjaan bakalan ditahan didepan, entah dititipin kesiapa. Kalau hilang, bagaimana? Kan sayang...#Tidak mau rugi.

Sudah pakai bahasa tanpa grammar dan satu kata demi satu kata ditranslate ke bahasa Inggris ditambah bahasa sejuta umat, bahasa tubuh, tetap, mereka tidak paham. Hening sejenak.

Dikala suasana kacau balau berganti hening, seolah dunia ini sudah berhenti berputar, aku tiba- tiba dapat ide brilian, kalau saja, ide ini ikut lomba untuk taraf Internasional, aku pasti memang.

Gambarkan saja, iya , saya minta kertas dan pulpen, itupun dengan bahasa tubuh. Menggambar bukan keahlian aku, jadi menggambar jelek lah. Ada tulisan Bogyoke Market, tas belanjaan, sebuah jam, gedung bioskop.

Dan....

Aku hanya dikasih jawaban 6.15, six fifteen, begitu mereka menyebutnya berulang sejak kami bertanya.

Aku langsung lemas tidak berdaya, kakiku bergetar kencang, tidak sanggup berjalan. Gubrak. Mereka tetap tidak bisa kasih jawaban.

Aku kabur dan lari sekencang- kencangnya, berlari mengelilingi lapangan seluas Gelora Bung Karno. Ditengah pelarian itu, aku bertemu sepasang anak muda, rupanya, merekalah malaikat yang dikirim Tuhan. Dari mereka, aku dapat titik terang.

" Iya, kalian boleh bawa barang belanjaan  masuk kedalam theater bioskop. " Cukup sekian dan terima kasih.

Tiket ditangan dan menghabiskan waktu di market.

Harga tiket variatif. Ada kelasnya. Mau berasa seperti bangsawan, yang kalau nonton show duduk di balkon yang eksklusif? Disini ada. Justru begitulah mereka membuatnya.

Ada 3 harga berbeda untuk 3 kelas tempat duduk yang berbeda. Best view kelas atas di balkon, 3000 Kyatts, kelas menengah juga diatas balkon, 2000 Kyatts, sedangkan untuk kelas umum, tempat duduknya seperti biasa dibioskop pada umumnya, 1500 Kyatts. Sama- sama menonton film yang sama, layar yang sama.

Bayangkan saja, hari biasa saja kita nonton di Jakarta berapa per orang? Rp 35.000,- ? Rp 50.000,- ? Sabtu Minggu ? Premiere? Muahaaalll..

Layar yang ditutup tirai sebelum film dimulai, ini capture dari kelas atas, bangsawan...
Disana, kelas papan atas saja baru Rp 37.500,- per orang. Murah? Iya.. Tapi tidak murahan. Bukan bioskop bau, dengan design jelek, pakai papan biasa. Bioskopnya bagus, securitynya saja berapa orang, mau masuk saja kudu lewati metal detector. AC- nya kencang, tempat duduk empuk, soundsystem ok, bersih dan nyaman. Ada theater khusus 2D juga, mereka juga putar film 3D. Banyak kacamata tembus pandang yang disimpan rapi di lemari.

Ada 2 jam lebih untuk habiskan uang yang ada dikantong. Aku sendiri tidak mendapatkan apa- apa selama hunting di market. Selain kaki pegal, hitungannya, foto- foto. Diseberangnya market, ada market berlantai 4. Layaknya supermarket, dari lantai 1 - 4, jualannya, serba- serbi, sembako, fashion, atk, souvenir, krupuk, snack, rokok, macam- macam deh. Lengkap.

Aku beli sebotol selai nenas buatan Myanmar. Makan sarapan pagi di hotel sih enak. Dan satu botol bumbu untuk buah- buahan, satu bungkus kopi produksi lokal sana.

Keunikan nonton bioskop.

Sama seperti disini, banyak iklan berjalan sebelum film dimulai. Herannya, talent yang muncul di iklan itu, kenapa cantik- cantik ya? Beda banget dengan orang- orang yang saya temui dijalanan.

1. Penonton berdiri dan menghadap ke layar. Ada bendera kebangsaan muncul dilayar, ada lagu kebangsaan, semua orang upacara. Walaupun tidak menyanyikan. Satu hal yang belum umum saja bagi aku, anti mainstream banget. Unik dan lucu bukan?

Film diputar tanpa text sama sekali..
2. Pengalaman 3 hari disana, hampir sebagian besar mereka tidak bisa berbahasa inggris, tapi saat nonton film asing, saat itu, film barat, mereka nonton tanpa text lokal apalagi text Inggris. Sungguh, patut diacungi jempol. Mereka cuma melihat mimik muka, action gerak- gerik badan. Kerennya, bahasa tubuh saja.

Nah, sudah tahu kan, bagaimana orang lokal Myanmar menghabiskan waktu malam minggunya? Malam minggu ? Iya kebetulan sekali hari itu, Sabtu. Jadinya , tidak tahu, apakah hari biasa, juga akan seramai malam minggu?

Mereka datangnya beramai - ramai. Bersama keluarga, orang tua, anak- anak, pasangan. Mungkin bioskop menjadi tempat hiburan bagi mereka, walaupun tidak paham apa yang sedang mereka tonton. Mungkin !!

Selama menonton, mereka tuh berisik sekali. Entah apa yang mereka perebutkan didalam ruangan bioskop yang gelap dan dingin itu. Kursi DPR kali ya ?

Asumsi saya, ada yang mengerti bahasa Inggris, berusaha sambil nonton sambil menerjemahkan ke orang- orang yang ada disampingnya. Terlebih lagi, suara berisik dari plastik makanan, bisa kebayang gak kamu?

Toilet berada disalah satu sudut dalam theater, tidak perlu jauh- jauh sampai ke Monas untuk pipis saja. Dipastikan sampah, limbah makanan ringan, berserakan dimana - mana. Aku temukan saat jalan ke toilet. Aku inisiatif, ambil sapu dan pel. Aku langsung dikasih seragam. #NaluriOB #Haizz..

Luar Theaternya..
Pasangan muda, lebih memilih seat romantis. Bagian belakang, paling atas, dekat tembok, dibuatlah seat kavling gitu buat 2 orang sahaja. Dibuat sekat kanan kiri sahaja, kalau depan juga disekat, ya mereka yang main film deh.

Aku duduk tepat satu baris didepan seat begituan, bisa lihat jelas, apa yang sembari mereka lakukan ditengah keseruan film didepan layar. Aku waktu itu bayar tiket 2000 Kyatts, salah hitung, harusnya beli yang 3000 Kyatts, benar- benar best view.

Nah ini.. baca dan simak sendiri...
Sudah ? Sudah untuk artikel tentang menonton ya.. Tungguin ya , artikel selanjutnya menyoal kehidupan lokal orang- orang Yangon di Myanmar. Sama seperti dengan kehidupan kita disini? Mungkin. Lebih dari kita atau malah dibelakang kita. Tungguin saja.

Belum lagi, bakalan ada edisi objek wisata, berburu kuliner lokal, jajanan pasar yang hampir sama dengan jajanan pasar kita, mereka juga makan buah yang sama dengan kita. Apakah mempunyai nenek moyang yang sama ? Aku pikir tidak, karena nenek moyang kita adalah seorang pelaut, nenek moyang mereka siapa? Aku tidak tahu.

Dilarang mengambil foto diarea bioskop, jadi, ini hasil kamera kendid ya..

Baca juga : 10 Fakta tentang Myanmar

With Love,

@ranselahok





Share on Google Plus

About ransel ahok

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

2 komentar :

  1. hahaha, jelas ajah berisik, selain mereka saling menerjemahkan, barangkali ada banyak yg hanya gosip, jadi cuman num gaya saja nonton do bioskop

    ReplyDelete
  2. heh! ketauan foto! denda!!! :P

    ReplyDelete

Powered by Blogger.

Popular Posts