Auuuhh.. Nikmatnya Sensasi Pijat Di Wat Pho.

Tanggal 22 Agustus 2016.

Sebelum berangkat ke Koh Phangan, baca disini : Naik Kereta Sulap Ke Koh Phangan, paginya, aku ke Wat Arun dulu. Kenapa Wat Arun? Sederhana, trip terdahulu, aku tidak sempat main ke sini. Karena sudah di Bangkok, ya sekalian saja. Dari BTS Phrompong turun di BTS Siam, kemudian pindah ke jalur Bangwa, turun saja di BTS Saphan Taksin. Gampang kok. Bayarnya hanya sekali saja saat naik dari BTS Phrompong bayar 42 Baht. ( 1 Baht = RP 400,- )
Salah satu sudut Wat Arun.
Jalan kaki susurin tangga, ikutin petunjuk, sampai deh di dermaga buat nyambung kapal ke tujuan kamu. Dari dermaga sini, kamu bisa langsung ke Grand Palace ( bisa baca disini), ke Wat Pho dan beberapa tempat lainnya. Aku naik kapal Chao Phraya Express Boat turun di Wat Pho ( bayar 40 Baht one way )  untuk nyebrang ke Wat Arun. Informasi yang pernah aku baca sekilas, ada kapal yang lebih murah, tandanya kalau tidak salah bendera kuning atau warna apa gitu...  

Kapalnya sih okey-lah, lagian cuma sekitar 10 - 15 menit saja. Ada pengumumannya kalau sudah sampai di dermaga no berapa dan tujuannya apa. Yupss, jadi setelah beli tiket kapal, langsung dikasih secarik kertas, kayak petunjuk tempat wisatanya, nomor sekian untuk wisata apa. Sangat informatif kok. 
Loket tiket...
Aku nyebrang ke Wat Arun dari dermaga dekat Wat Pho. Bayar 3 Baht ( one way ). Tidak sampai 5 menit sudah berada di Wat Arun. Hanya saja, kapalnya kudu tunggu penumpang dulu. 

Wat Arun, ya wisata religius, wisata temple juga. Yang pasti, semacam wisata sejarah juga. Kalau mau ke sini, ada baiknya mungkin tunggu sore ya, kalau tidak ya pagi- pagi. Tengah hari kek gini, panasnya luar biasa. 

Sayangnya, Wat Arun sedang pemugaran. Turis tetap boleh masuk, tiketnya 50 Baht. Ada batasannya, tidak bisa naik sampai ke atas. Suasana saat itu tidak terlalu ramai. Mungkin juga, karena sedang ada renovasi, atau mungkin karena matahari sedang berada diatas kepala saat itu. Panasnya benar- benar menusuk. 
Didalam kapal...
Ada pasar juga kok didekat viharanya. Ya jualan baju- baju, souvenir-lah. Kebutuhan para turis. Hahaha... kerennya, sebagian penjual menawarkan pakai bahasa Indonesia loh. Artinya, sangking mainstream-nya Bangkok dimata orang Indonesia. Walaupun, cuma sepatah dua kata sih. 
Wat Arun sedang pemugaran.
Sekitar 1 jam disini, lalu ke Wat Pho. Naik kapal yang sama dan tetap bayar 3 Baht. Dari dermaga, tinggal jalan kaki saja. Rasanya tidak perlu tanya sana sini, tinggal ikutin saja langkah manusia lain saja, pasti, sampai didepan Wat Pho. Serius.. karena memang itulah tujuan utamanya kesana. Kalau kamu ke sini lewat dermaga ini, kamu akan melewati kios- kios penjual souvenir. Harga, tidak tahu, mungkin bisa lebih mahal. 

Kamu harus rela menukarkan 100 Baht kamu dengan secarik tiket biar bisa masuk ke Wat Pho. Tiket itu bisa ditukar dengan segelas air mineral. Lumayanlah, pelepas dahaga. Wat Poh, Temple Of Reclining Buddha, selalu ramai dan dipadati turis. Kali ini, aku tidak terlalu explore temple ini. Aku melewati semua spot kerennya, karena sebelumnya sudah pernah ke sini. 
Wat Poh...
Tujuan utama aku kembali ke Wat Pho adalah untuk massage. Yups, untuk pijat. Jauh- jauh kesana untuk pijat. Ho oh.. Trip terdahulu, sudah tahu ada massage terkenal yang ada didalam temple ini, tapi entah kenapa, waktu itu aku tidak mencobanya. Untuk melengkapi, ya, aku kali ini harus mencobanya. 

Sebelum massage, aku tetap masuk dan ikut desak- desakan dengan turis lainnya untuk melihat Patung Buddha. Narsis juga dong. Tidak mau kalah, ikutan antri untuk foto. Ada sedikit beda sih, kalau dulu, bisa mengelilingi patung Sang Buddha, kali ini, langsung diarahkan keluar pintu belakang, baru putar ke depan. Oh ya, sebelum masuk, kamu akan dikasih kantongan untuk menyimpan alas kaki kamu. Untuk wanita, kalau berpakaian terlalu minim, dipinjamin kain. 
Didalam temple Patung Sang Buddha..
Aku akui sih, berada didalam temple Sang Buddha, hawanya beda, walaupun penuh, padat dan sesak dengan manusia, tidak panas loh, adem gitu. 

Sempat keliling tidak jelas juga sih sebelum benar- benar pijat. Tidak tahu kenapa? Ya kedua kakiku melangkah saja mengikuti kata hati. Tidak terasa, ya habis juga waktu 30 menit. Dan benar pada puncaknya, pegal. 

Tidak serta dapat giliran buat bisa dapat menikmati pijatan encik- encik Bangkok. Antri bro... Aku sendiri antri 30 menit untuk massage fullbody 1 jam. Lapor ke receptionist, kamu mau refleksi kaki sahaja atau mau pijat fullboy. Entar, nomor antrian dibedain pakai warna kertas. 

Tibalah giliranku. Aku dibawa pergi seorang encik berambut keriting, berumur paroh baya, dan ramah. Jangan berpikiran negatif. Hayo... Ini pijat benaran punya. Ini pijatnya di dalam temple-loh. Terus, pijatnya diruangan terbuka.

Rupanya, aku dapat ditempat prakteknya yang kedua. Dekat banget, jalan kaki mungkin 2 -3 menit saja. Dapat ranjang paling ujung. Tapi satu deret bisa untuk 3 orang. Setelah ganti baju, mulailah, pergulatan itu dimulai... hahaha.. pergulatan ... 
Sedang dipijat sama Encik Thai...
Serius, kenapa aku pakai kata pergulatan, karena tulang- tulang aku rasanya mau remuk. Rasanya mau menjerit. Padahal, enciknya tidak mengeluarkan tenaga yang super, cukup pakai tenaga dalam saja. Sebelum mulai, aku sempat ngintip, dia sedang berdoa gitu, kayak sedang mengumpulkan tenaga dalam. 

Selama pengalaman aku massage, selalu meminta tenaga yang lebih besar lagi, tenaga ekstra lagi. Kali ini, rasanya ingin minta kurangi, minta ampun. Setelah 5 menit kemudian, aku merasakan sesuatu yang berbeda. Rasa sakit itu tidak terasa lagi. Berubah menjadi satu sensasi pijatan yang luar biasa dan berbeda dari pengalaman aku pijat selama ini. Hahahah... lebay... Ini bukan yang negatif ya... Tapi gimana ya menjelaskannya, mungkin mereka tahu, titik- titik yang ada didalam tubuh, sehingga pijatannya benar- benar kena banget. 

Karena ini juga, mereka tidak perlu tenaga besar, hanya butuh, keahlian dan ketepatan letak titik- titik yang ada dalam tubuh. Sehingga setelah dipijat, benar- benar terasa lega, bukan menjadi tambah sakit karena asal tekan. 

Aku bayar 400 Baht untuk pijatan itu. Dapat segelas air minum, kayak teh poci gitu. Aku pikir worthed sih. Kalau kamu suka massage dan sedang ada di Bangkok, jangan lewatkan tempat ini untuk nikmati sensasi yang berbeda dari pijatan encik- encik disana. Konon kabarnya, justru tempat ini juga, tempat belajar massage. Jadi ilmu massage-nya berasal dari sini. 

Sudah lega, buru- buru pulang lewat dermaga tadi. Sepiring nasi goreng ala Thai mengisi perutku. Kemudian antri kapal sekitar 30 menit untuk pulang ke Saphan Taksin. Tiba di hostel ( baca disini ), numpang mandi, lanjut ke Bangkok Railway Station ( baca disini ), untuk berangkat ke Koh Phangan/ Koh Samui. Baca disini. 

With Love,

@ranselahok
---Semoga semua mahluk hidup berbahagia--- 

Share on Google Plus

About ransel ahok

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar :

Post a Comment

Powered by Blogger.

Popular Posts