Ayutthaya,Tempat Pelarian Dari Bangkok.

Tanggal 26 Agustus 2016.

Sehari setelah kembali dari Koh Phangan, aku mengunjungi Ayutthaya yang masuk kedalam situs warisan dunia yang harus dilindungi, UNESCO World Heritage. Berjarak 85 km dari utara Bangkok, Ayutthaya bisa ditempuh dengan menggunakan van. Naik van-nya dari Victory Monument, jadi kalau naik BTS, tinggal turun di BTS Victory Monument station saja. Bisa menggunakan kereta api juga dari Bangkok, harganya juga lebih murah. 
Kota Ayutthaya
Aku sendiri memilih menggunakan van, bayar 60 Baht ( 1 Baht = Rp 400,- ) untuk sekali jalan dan butuh waktu sekitar 1 jam-an lebih.  Gampang sekali, dibawah BTS Victory Monument sudah berjejer loket yang menawarkan tiket perjalanan. Tinggal cari, kemana tujuan kamu saja. 

Tiba di Ayutthaya, matahari sudah hampir berada tepat diatas kepala. Terik banget. Panas. Sekilas, kota yang penuh sejarah ini, sepi dan tidak tampak hiruk- pikuk seperti di Bangkok. Lalu lintas jalan raya juga tidak padat. Kamu akan diturunkan dipersimpangan jalan. Tidak jelas dimana sih itu. Tapi jalan sekitar 5 menit, ketemu pasar. Lapar sudah tidak terbendung lagi, keliling seisi pasar, akhirnya aku makan disalah satu kedai makan disudut pasar itu. Murah euy, bayar 50 Baht untuk semangkok kari bihun, sudah ada bakso ikan dan bakso babinya. Kenyang dah. 
Di pasar..
Niatnya, aku memang mau rental sepeda saja untuk explore taman bersejarah dari reruntuhan Kerajaan Ayutthaya yang didirikan oleh Raja U-Tong pada tahun 1350 yang dihancurkan oleh pasukan Burma pada tahun 1767. Begitu turun dari van, semua turis langsung disergap sama abang tuk-tuk. Yang aku lihat, semuanya pakai jasa tuk- tuk kecuali aku. Pelit, iya... Kenapa? Mahal cuy... sampai ratusan Baht. Oh tentu tidak...
Tempat sewa sepeda...
Sempat tanya ke encik- encik yang nawarin jasa tuk-tuk, ada rental sepeda tidak? Katanya mana ada. Naik tuk- tuk saja. Tidak patah semangat. Singkat cerita, aku menemukan tempat rental sepeda dan motor. Kalau memang van-nya selalu berhenti disana, berarti, setelah turun dari van, kamu belok kiri aja pakai jalan kaki sudah bisa, sekitar 5 menit saja sudah ketemu. 

Kesimpulannya, kalau tidak mau berpanas- panasan, tuk- tuk menjadi pilihan yang tepat buat kamu, apalagi kalau berkelompok. Rental motor tentu lebih mahal dibanding rental sepeda, belum lagi untuk bensin. Tapi, pakai motor bukan menjadi pilihan yang tepat buat kamu yang takut gosong apalagi pakai sepeda. Oh ya, mungkin ada baiknya bawa payung atau topi deh.

Kamu yang suka situs sejarah dan berbau peninggalan kerajaan kuno, paling tidak, kamu harus menghabiskan 2 hari di kota ini. Kota ini walau kecil tapi penuh dengan situs bersejarah yang bisa kamu explore satu per satu. Sedangkan aku, hanya terhitung beberapa jam saja disini. Tiba jam 11 siang dan kembali ke Bangkok pakai van jam 6 sore. 
Komplek Wat Phra Maha That
Setelah bayar 40 Baht untuk pemakaian sepeda, kamu akan dikasih peta dan sedikit penjelasan tempat- tempat yang wajib dikunjungi. Kamu juga akan dipinjamin gembok untuk keamanan sepeda kamu. Butuh beberapa hari jika kamu mau kunjungi semuanya. Dan hampir semuanya, menawarkan wisata yang sama, yaitu sejarah peninggalan kuno, reruntuhan, ya itu, berkeliling dari satu temple ke temple lainnya. 
Komplek Wat Phra Maha That..
Aku mulai dari Wat Phra Maha That. Tiket masuk ke komplek Wat ini 50 Baht. Temple ini mejadi yang wajib dikunjungi, terletak didekat inti kota, sehingga tidak ada alasan untuk melewati kuil yang terkenal dengan patung kepala Buddha yang terlilit akar pohon. Kompleks ini luas sekali, satu round itu, kemaren itu sekitar 1 jam lebih, itupun, tidak semua dilihat. 

Selain patung kepala Buddha, kamu bisa melihat berjejer patung Buddha tanpa kepala dan reruntuhan candi serta diyakini ada istana kerajaan, Dari komplek Wat Phra Maha That ini, patung kepala Buddha terlilit akar pohon inilah yang paling ramai dikunjungi turis. 
Komplek Wat Phra Maha That
Lanjut gowes sepeda, nyebrang ke Wat Ratcha Burana. Tiket masuk juga sama, 50 Baht. Temple ini sedang pemugaran, tapi tetap bisa naik dan masuk kedalam candinya. Okey, turis wajib antri untuk bisa turun ke bawah candinya. Ruangnya yang sempit, tangganya hanya bisa dilalui satu orang saja, sehingga naik turun harus bergantian, lagian, dibagian bawah benar- benar tertutup rapat tidak ada sirkulasi udara yang cukup, panas dan ngab, minim udara dan tidak bisa berlama- lama. 
Komplek Wat Racha Burana

Yang dilihat adalah lukisan dindingnya. Aku sih tidak terlalu menikmatinya, pencahayaan yang kurang ditambah sudah terasa sesak ketika mencapai spotnya. Tidak sampai 3 menit, aku putuskan untuk kembali naik ke atas saja untuk mendapatkan limpahan udara segar. 
Lukisan dinding, foto dibantu flash...
Satu level dengan tangga turun ke bawah, ada ruangan yang menyimpan peninggalan kuno yang terbuat dari emas. Tidak terlalu yakin sih, kalau itu masih benar- benar asli peninggalannya, bisa saja replika.
Ini reruntuhan ya, bukan bangunan belum jadi...
Kemudian pindah ke Wat Lokayasutharam. Untuk mencapai tempat ini,  butuh perjalanan cukup jauh dan melewati beberapa temple yang sengaja aku tidak mampirin. Disinilah Sleeping Buddha di Ayutthaya berada. Hanya berdoa sejenak disini. Oh ya, patung Buddha yang sedang berbaring ini tidak berwarna kuning emas seperti patung Buddha lainnya. Hanya ditutupi pakai kain warna kuning emas saja. Tidak perlu beli tiket masuk.
Wat Lokayasutharam
Pindah ke Wat Chai Watthanaram. Lebih jauh lagi. Buset, harus gowes melewati jembatan yang sedikit butuh pendakian. Capek banget, sudah jauh, panasnya minta ampun. Aku tidak masuk kedalamnya lagi. Tiket masuk sih 50 Baht. Berhubung waktu yang sudah semakin terbatas, aku pikir sama saja yang dilihat, temple- temple gitu, selain itu, dari luar pagar juga terlihat jelas bentuk dan model bangunannya. 
Wat ChaiWatthanaram
Karena cuaca yang super panas dan letih yang tidak bisa dibiarkan begitu saja, makan es krim kelapa deh untuk menenangkan hati sejenak. Harganya 40 Baht. Foto- foto sejenak, pulang deh ke kota untuk naik van kembali ke Bangkok. Daripada nyasar cari jalan baru, aku ikutin jalan yang aku lalui saja pas datang tadi. Pulangnya terasa lebih cepat, walaupun sampai dipusat kota butuh 30 menitan juga tanpa berhenti.
Ada wisata naik gajah juga sebelum Sleeping Buddha, masih dekat ke kota.
Okey, menurutku, jika kamu bosan dengan Bangkok atau sudah beberapa kali ke Bangkok, melarikan diri sejenak ke Ayutthaya menjadi pilihan yang tepat. Itupun kalau kamu memang anak yang suka sejarah. Hahaha... kalau tidak, tetap di Bangkok saja atau pilih daerah lain yang lebih sesuai dengan identitas kamu. 

Buat kamu yang mau ke Ayutthaya, siapkan sunblok, payung buat keliling temple dan topi. Sediakan air minum yang banyak. Tinggal pilih, beli paket tuk- tuk, sewa motor atau sepeda. Aku tidak sampai malam, jadi tidak ada gambaran sama sekali tentang kehidupan malam disana. Aku lebih memilih one day trip ke Ayutthaya. Naik van pulang ke Bangkok, tempatnya sama seperti saat diturunkan. Harganya juga sama.

Hasil seharian di Ayutthaya, aku jadi cemong- secemong- cemongnya. Serius... gosong parah.

With Love,

@ranselahok
---semoga semua mahluk hidup berbahagia---







Share on Google Plus

About ransel ahok

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar :

Post a Comment

Powered by Blogger.

Popular Posts