Nikmati Hongkong Dari The Peak.

Tangga 1 April 2017.

Setelah dari short trip ke Macau, bisa baca disini, aku lanjut ke Hongkong yang bisa dijangkau dengan menggunakan ferry. Untuk penginapan di Hongkong bisa cek disini dan disini. 

Kesempatan kembali ke Hongkong di awal April kemaren, menjadikan pengalaman paling seru aku selama beberapa kali ke Hongkong. Yups, paling seru, paling kena dihati dan paling happy. Melakukan apapun yang aku mau, sendiri, kemana saja, mau ngapain saja, bebas. 
View dari The Sky Teraace, The Peak.
Masih mengunjungi beberapa spot wisata yang sudah pernah didatangi sebelumnya. Mengulang memori masa lalu seperti makan di restoran fastfood Maxim dan Fairwood yang menjadi favorite banget, dulunya. Jalan kaki sepanjang hari dan itu menjadikan pengalaman yang luar biasa. 

Hari pertama di Hongkong, aku yang menginap di Tshim Sha Tsui, tentu, yang paling dekat adalah Waterfront Hongkong atau Clock Tower Hongkong yang bersebelahan dengan dermaga ferry buat nyebrang ke Central. Tidak perlu ditanya lagi, tempat ini selalu ramai, selalu padat. Dari pagi, siang dan malam, ramai terus. 
Ikutan bergaya di Water Front.
Disini, tempat turis berfoto, menjadikan saksi bisu bahwa sudah sampai di Hongkong. Segala sudut dijadikan background-nya. Sah- sah saja. Semua orang boleh dan berhak melakukan apa saja yang dia inginkan, apa yang menurutnya terbaik bagi dirinya, apa yang membuatnya bahagia dan senang. 

Sebagian lainnya, bersantai disini, menikmati alam dan pemandangan Hongkong yang dihiasi gedung pencakar langit. Duduk sambil menikmati segelas minuman dan cemilan, akan menjadikan hidupmu terasa sempurna. Sedang, sebagian lainnya, menjadikan area ini tempat olahraga, lari, jogging dan apalah. 

Tergantung kamu sih, sukanya ke tempat ini, pagi atau siang, sudah pasti panas, kalau datangnya sore, sih lebih adem, apalagi sudah menjelang malam. Pada umumnya, para turis datang ke sini untuk menikmati pertunjukkan permainan lampu yang diadakan setiap malam tepat 8 malam. Dulu, pertama kali ke Hongkong, aku merasa pertunjukkan ini keren banget, tapi erhm... setelah beberapa kali nonton dan kemaren, yang terakhir, aku kok merasa, pertunjukkannya biasa saja dan tidak ada yang special. Merasa, sama saja, tidak ada perubahan, bosan, tidak ada yang berubah dari pertama kali nonton...

Tempat lain yang aku datangi, The Peak. Kembali ke The Sky Terrace, kali ini, sungguh perjuangan. Aku kan belum pernah naik tram ke The Peak. Jadinya aku putuskan untuk mencobanya. Dan, ya ampun, setelah jalan kaki cukup jauh dari dermaga Central, antrian panjang nan mengular itu membuatku putus asa. Waktu sudah menunjukkan jam 11 siang, kabarnya jika mau antri, untuk sampai didepan loket, bisa makan waktu 2 jam lagi. Andaikata kamu sudah beli online juga, tetap wajib antri untuk tukar tiket aslinya. Begitu yang disampaikan staff yang jaga disana waktu itu. 
Antrian yang mengular hingga dari tempat aku mengambil foto.
Aku sempat mengurungkan niat, atau besok pagi- pagi aku kesini lagi. Erhm... sempat berdiri diam kayak orang bego sambil mikir, gimana nih? Akhirnya, aku ambil jalur cepat. Beli paket combo. Beli tiket naik ke The Peak, sekalian ke The Sky Terrace dan masuk ke Maddam Tussaud. Ya ampun, sebenarnya, sudah sangat bosan untuk masuk ke Maddam Tussaud lagi. Tidak ada pilihan lain lagi, Paket combo itu seharga HKD 335 per orang. Tetap antri sih, ya 30 menit lah.

Bapak Presiden Soekarno.
Perjuangan tidak sampai didepan loket saja, perjuangan masih berlanjut untuk antri naik tram-nya sendiri. Entah kenapa Hongkong bisa sangat pintar memikat hati para turis dan dengan gampangnya menguras isi kantong tamunya. Salut.

Setelah makan alakadarnya di Mc Donald, aku naik ke The Sky Terrace. Sudah kuduga, pasti ramai, pasti padat. Dan hari itu hari Sabtu. Semua orang sibuk berfoto, semua sibuk berpose. Okey, aku? Duduk santai sambil menjemur. Hahaha.. kok berasa kayak sedang di pantai saja. Aku hampir 3 jam disana. Sayang sekali kalau tidak menikmatinya. Sudah bayar mahal, buang waktu buat antri, ya, aku sangat menikmati alam dan pemandangannya. Walaupun duduk tidak jelas sambil pandangi setiap orang yang berpose. Macam- macam saja gaya mereka. Terkadang aku tertawa geli sendiri. Aku menepi. Kadang duduk disudut, kadang duduk dibangku yang tersedia, kadang aku ke ujung yang tidak ada orang. Aku sendiri. Aku diam dan tidak bersuara. Aku merenung. Alam bawah sadarku bekerja cepat. Alam bawah sadarku membawaku entah kemana saja, waktu itu
Enjoyed time at Bubba Gump.
Kemudian, aku memutuskan untuk menikmati sisi lain dari sebuah pemandangan indah yang disajikan Hongkong. Aku masuk ke Bubba Gump. Santai didalam restoran, mendengarkan musik, makan dan minum sambil memandangi Hongkong yang sesungguhnya. Menunggu terang berganti malam, menunggu Sang Mentari kembali ke peraduannya. Tidak lupa, masih punya tiket masuk ke Maddam Tussaud. Gerak cepat. Tidak terlalu lama. Cukup lewat saja. Mumpung sudah beli tiketnya, 
Night view dari The Peak.
Sama, saat mau turun, butuh energi besar untuk bisa sampai didepan tram. Butuh 1 jam berdiri, di lapangan terbuka, malam dan semakin dingin. Tidak ada pilihan . Yups, persis 1 jam aku antri. Sendiri, tidak kenal siapapun, tidak bicara apapun, diam dan membisu.

1 jam hanya untuk antri Tram turun ke bawah.
Sisa malam itu, aku jalan kaki dari Tram station ke dermaga penyebrangan di Central, kemudian jalan kaki pulang sampai ke hostel. Belum puas, keliling sejenak sambil mencari makanan. 

With Love,

@ranselahok
---Semoga semua mahluk hidup berbahagia---

Share on Google Plus

About ransel ahok

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar :

Post a Comment

Powered by Blogger.

Popular Posts