Pengalaman Burukku Nginap Di Hostel Seoul, Korea Selatan.

Tanggal 19 Agustus 2017.

Baca juga : Jalan- jalan di Busan. Bisa baca disini. 

Selama 3 malam di Seoul, aku nginap di Shinchon Kimchee Guesthouse. Per malamnya aku bayar Rp 125.000,- per malam via Agoda. Guesthouse-nya okey, standart hostel yang penuh dengan turis backpacker keluar masuk setiap hari. Ada AC dikamar, ada free wifi, ada hot shower dan toilet yang ada dipisah. Ada tempat nongkrong di basement. Ada dapur yang bisa kamu pakai buat masak.

Cuma, kamarnya sempit sih, termasuk ranjangnya agak kecil. Tapi, masih lebih lega jika dibanding pengalamanku nginap di Hongkong. Bisabaca disini.

Pagi itu, dari airport aku naik subway turun di Hongik University Station. Butuh jalan kaki sekitar 15 menit untuk bisa sampai di hostel. Tidak terletak di jalan raya, hostelnya ada di bagian dalam gang gitu. Aku tiba di hostel jam 11 –an . Sesuai aturan, baru bisa check in itu jam 3 sore. Aku diminta taruh tas saja, jalan- jalan dulu saja.

Namanya Amy, entah siapanya hostel? Entah sekedar staff atau owner-nya? Tidak ada senyum- senyumnya sama sekali. Ya sudah, karena lapar, tapi malas kemana- mana, aku makan di Popeye, fried chicken yang letaknya tidak seberapa jauh dari hostel. 2 potong ayam, aku bayar 4.800 Won.
Amy...
Ya sekalian makan siang, sekalian duduk santailah ya, sembari menunggu jam buat check in. Lagian, tempatnya juga tenang, tidak banyak tamu, ada wifi lagi. Yang akhirnya, tidak terasa sudah hampir jam 3 sore. Kembali ke hostel buat check in, eehh si Amy tidak ada ditempat, dikasih info dimeja receptionist, kalau dia lagi makan siang.

Dari jam yang ditentukan buat makan siang, aku hitung, dia lewat 20 menit. Kita orang dibiarkan menunggu tanpa ada permintaan maaf. Ya sudahlah, masalah kecil juga. Proses checked in berlaku biasa dan normal. Deposit 3.000 Won untuk kunci kamar dan akan dikembalikan setelah kamu menyerahkan kuncinya lagi saat check out.

Aku hanya booked 2 malam saja. Berpikir hari ketiga baru ke Nami Island, aku perpanjang 1 malam. Nah, aku booked di Agoda juga. Aku kasih tahu dong ke Amy, kalau aku perpanjang 1 malam. Dia checked, dia bilang okey. Awalnya dia bilang, kamu dikamar yang sama saja. Yupss, bagus dong, biar tidak perlu repot pindah- pindah.

Baru melangkah keluar dari pintu, dia bilang teriak manggil gitu, oh.. tidak bisa kamar yang sama. Kamu akan dikasih tahu, dikamar mana setelah kamu check in ulang besok. Padahal, pengalamanku sejauh ini, aku kan suka perpanjang gitu juga, tidak pernah diminta pindah kamar atau sampai diminta check out. INI PENGALAMANKU …

Aku bilang, aku besok mau ke Nami Island pagi- pagi loh, Amy bilang tidak apa- apa. Kamu check out saja. Bawa semua tas kamu, terus taruh di situ, sambil nunjuk tempat di depan dia. Nah, setelah kamu pulang malamnya, kamu baru check in lagi. Ya sudah, pikirku.. kalau begitu aturannya.

Tidak ada pembahasan sama sekali tentang uang depositku. Aku pikir, dia pasti sudah atur sendiri. Jadi pas aku check in ulang, tidak perlu deposit lagi. Pikirku demikian.


Nah, pas checked in ulang, orangnya beda. Bukan Amy. Drama Korea dimulai. Aku bilang, 2 malam ini, aku tinggal disini, terus perpanjang. Diminta checked out terus checked in ulang. Diminta paspor lagi.

Sampailah pembahasan tentang deposit. Kalimat pertama keluar dari cowok itu, tidak tahu namanya, dia bilang, kamu tidak ada deposit. Aku masih sabar dengan santai bilang, ada kok. Aku dari kamar sekian, sudah kasih deposit 3.000 Won ke Amy. Dia cek sana sini, terus bilang tidak ada.

Aku ulang lagi lah, cerita, kemaren, aku datangi Amy, bilang kalau aku perpanjang satu malam, tapi pagi ini, aku ke Nami Island pagi- pagi. Dia bilang tidak masalah, kamu checked out saja, bawa turun tas kamu. Tuh tas aku, sambil nunjuk ke dia. Pas tadi pagi aku keluar, disini tidak ada orang. Ya, aku langsung pergi saja setelah taruh kunci di box ini. Dan Amy tidak ada bahas denganku masalah deposit.

Dia, telepon Amy. Entah apa yang mereka bicarakan. Intinya, dia sampaikan, kalau deposit sudah dikembalikan ke aku. Apa? Volume-ku mulai naik tapi masih sabar. Aku bilang, kapan dikasih? Pagi ini? Sedangkan saat aku taruh tas, tidak ada orang. Kalian saja masih tutup. Dia masih ngotot bilang, sudah dikasihkan.

Aku bilang, kamu cek Amy lagi deh. Tanya kapan dia kasih ke aku? Cek rekaman CCTV kamu juga saja. Kalau sudah kasih, kan ketahuan. Sampai pada ujungnya, nada-ku benar tinggi. Aku bilang, kamu cek rekaman CCTV sekarang. Kalau kamu pikir aku bohong. Itu cuma 3.000 Won.

Dengan cepat, dia minta maaf sih. Bukan begitu maksudnya. Disini kan banyak yang keluar masuk. Kita selalu aturkan, kalau check out pagi, kita selalu kembalikan depositnya malam sebelumnya. Lah, aku bilang, kemaren bahas sama Amy, dia saja tidak bicarakan soal itu.

Begini saja, kamu cek rekaman CCTV deh. Biar jelas. Lah.. 3.000 Won doang, masak mau tipu? Akhirnya, drama sepele ini usai dengan sendirinya. Dia okey, ini deposit kamu. Akan dikembalikan ke kamu setelah kamu check out besok. Aku bilang, tidak perlu, kamu cek rekaman CCTV dulu saja.
Ya ampun, serius, bukan masalah 3.000 Won loh, dia kata aku mau tipu. Aku bilang, sudah keliling kemana- mana dan nginap di hostel, tidak ada kendala apapun, mau check in/ out, pagi- pagi ataupun kemalaman sekalipun tidak pernah ada masalah, termasuk, perpanjangan. Tidak pernah diminta check out terus check in lagi. Karena setiap hostel punya aturannya, ya aku ikutin. Nyatanya, malah ada kendala seperti ini.

Yang buat tambah kesal, ya staff-nya, beberapa kali tanya informasi, dijawab seadanya, dengan nada datar tanpa senyum. Kan buat bete. Aku sempat bilang, ini hostel pelayananya paling tidak bagus sejauh pengalamanku, terutama Amy.

Ya sekiranya begitu deh. Selebihnya sih lumayan lah. Dekat ke Hongik University Station, dekat ke bus stop juga. Kalau mau cari makanan, kudu jalan agak jauh lagi. Tempatnya sih bersih. Setiap tamu yang mau check out, wajib bawa sprei dan sarung bantal turun ke tempat yang sudah disediakan. Tapi tidak dengan selimutnya. Tidak diganti- ganti kali ya untuk berapa puluh orang berikutnya. Tidak ngerti.

Beda banget dengan saudaranya, Kimchee juga yang di Busan. Jauh lebih bagus dibanding yang di Seoul. Kalau aku ada kesempatan ke Seoul, 100 % aku tidak akan kembali nginap di Kimchee Shinchon. Kalau masalah tempat, design dan fasilitas, ya itu relatif, itu sudah pasti sesuai dengan budget dong. Ada harga ada barang. Tapi tentang service, harusnya.. jika tidak 10, paling tidak 8-9 lah. Ini, cuma 6.
 
Tapi, ini hanya sepotong pengalamanku saja, mungkin ini kebetulan saja. Bahkan, hostel yang aku tempati di Yangon, masih lebih okey.

With Love,

@ranselahok
---Semoga Semua Mahluk Hidup Berbahagia---



Share on Google Plus

About ransel ahok

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar :

Post a Comment

Powered by Blogger.

Popular Posts