Little Adam`s Peak Di Ella, Srilanka.

Tanggal 1 November 2016.

1 Srilanka Rupee = Rp 88,9,-

Sempat bingung, keinginan hati yang paling kuat adalah melihat keindahan alam di Adam`s Peak setelah dari Kandy. Antara iya dan tidak lantaran, ketika itu sedang low season dan parahnya, menurut orang lokal, itu artinya disana sepi. Tidak peduli sih soal sepi, tapi lagi musim hujan, khawatirnya tidak ada yang bisa dilihat setelah mencapai puncak, terus tidak ada penerangan sama sekali sepanjang perjalanan kalau sedang low season. 

Begitu juga si Jee, antara meneruskan perjalanan ke tujuan selanjutnya, atau ikut aku ke Adam`s Peak. Setelah mendapatkan pencerahan terakhir dari Benjamin, host aku di Kandy, akhirnya aku mantap untuk tidak ke sana dengan alasan diatas. Aku pilih ke Ella langsung dari Kandy, sedangkan Jee, pilih ke Nuwara Eliya. 

Pagi itu, setelah pamit dengan keluarga Benjamin, aku naik tuk- tuk ke stasiun kereta terdekat untuk menyambung perjalananku selanjutnya ke Ella. Iya, Ella, aku sudah mantap ke Ella. Jee juga, jadinya ikut aku ke Ella. 

Faktanya,

Kereta ke Ella tidak beroperasional hari itu dengan alasan, semalam hujan deras, ada tanah longsor, ya, jalur keretanya tertutup. Selesai sudah tujuan perjalanan ini. Kenapa? Karena, kereta rute Kandy ke Ella yang paling wajib, sepanjang perjalanan itu, akan disuguhkan pemandangan luar biasa. Keretanya sih bukan tipe kereta baru dan bagus, tapi alamnya yang bisa dinikmati itu yang luar biasa. 

Alternatifnya, harus naik bus. Tidak ada rute langsung, aku harus turun di terminal Nuwara Eliya dulu, kemudian nyambung lagi ke Ella. Okey, naik busnya dari terminal yang dekat stasiun Kandy. Tinggal tanya saja, bus ke Nuwara Eliya yang mana? 

Dari Kandy ke Nuwara itu butuh 3 jam perjalanan dengan jalanan berkelok- kelok, menanjak naik, mengitari pinggir gunung yang tepat disebelahnya, jurang. Bayar 100 Rupee, sayangnya, aku tidak dapat tempat duduk di dekat jendela. Sumpah, pemandangannya super indah. Tidak terbayang, pakai rute bus saja, begitu indah, tidak tahu seberapa indahnya alam Srilanka, jika aku naik kereta. Tidak percaya, coba search saja, naik kereta Kandy - Ella, bisa nge - youtube juga. 

Hahahaha, sebenarnya, naik bus di Srilanka, punya pengalaman sendiri deh. Jalanan tidak terlalu besar, jalan gunung, tapi tetap saja balap. OMG... harus pegangan kuat biar. Orang lokal sudah terlatih kali ya, berdiri-pun, mereka tenang dan biasa saja. 

Jee kemudian berubah pikiran ketika sudah tiba di Nuwara Eliya, dia bilang, dia suka banget Nuwara, memang, bagus sih. Ya, mungkin karena, pemandangan sepanjang perjalanan itu yang merubah pemikiran Jee. Okey, akhirnya, kami pisah di terminal. Aku tetap menuju ke Ella. Jee tenteng backpack-nya jalan ke arah kota. 

Baru satu putaran mencari bus ke Ella, tidak sampai 15 menit, eh... ketemu Jee lagi. Dia batalin, katanya, penginapan disini mahal banget. Terus cuma lihat perkebunan teh yang terkenal di Srilanka. Nuwara Eliya identik dengan perkebunan teh. Ini yang menjadi daya tariknya. Turis yang kesini, hanya untuk santai, menikmati segarnya udara, hijaunya pemandangan sekitar dan tidak melakukan apa-apa. Yups, menikmati hidup. 

Jee, pada akhirnya, ikut aku ke Ella. Di bus, ketemu beberapa backpacker bule. Alasannya sama, tidak ada kereta, satu- satunya ya pakai bus. Perjalanannya sekitar 2 jam, bayar 100 Rupee. Alamnya sama, keren, bagus, indah tapi sayang, hujan. Kali ini, sudah dapat tempat duduk dekat jendela. Alam berkata lain. Sepanjang perjalanan, ya melamun saja. Berjuang bersama penumpang lainnya, bekerja keras mendapatkan udara yang semakin menipis. Bus selalu penuh, selalu saja ada yang naik dan turun. Sampai, giliran kami, turun...

Belum ada ide, entah mau jalan ke kanan atau ke kiri. Belum ada bookingan penginapan sama sekali. Lah, bule- bule itu, mereka semua sudah ada. Mana hujan masih mengguyur. Alamak.. berteduh sejenak sembari pelajari kota Ella sejauh mata bisa memandang. Tidak ada tanda dari Tuhan, kalau hujan akan segera diberhentikan. Tidak ada pilihan lain. 

Jalan ke arah kiri, sambil sedikit berlari. Jalan raya itu cuma muat 2 mobil buat 2 arah. Bus yang lalu lalang, gede- gede. Untungnya, tidak sampai 20 langkah, mata tertuju pada satu plang, satu hostel. Mampir, sekalian cek harga dan bentukannya. Cocok, opss, langsung okey. Langsung bayar. Jadi, aku menghabiskan malam itu di hostel yang menurutku, hahaha... murah... nyaman dan dipinggir jalan. 

Buru- buru mandi karena kehujanan. Sudah segar, pesan teh tarik panas, keluarkan biskuit, duduk santai di ruang makannya yang menghadap ke jalan, ruangan terbuka, udara dingin akibat hujan bebas menari keluar masuk sesuka hati. Kalau ingat, moment itu,.... Tuhan... Terima kasih banget atas Anugerah Yang Engkau berikan pada hamba-Mu ini.... 

Tidak ada kegiatan lain sore itu menjelang malam. Hujan masih tetap berlanjut. Tidak bisa kemana- mana. Cuma ada 3 kamar yang terisi. 1 bule cowok asal Belarus, 1 bule cewe asal German, ya sisanya Jee dan aku. Terjebak dalam situasi yang sama, kami semua, larut dalam satu percakapan yang panjang. Saling cerita sudah dari mana saja, sudah kemana saja, apa yang bagus, apa yang keren, besok mau kemana, besok mau ngapain, sudah keliling negara mana saja, setelah dari Srilanka mau kemana, sampai entah apa saja dibicarakan. Akrab.. mendadak akrab.. kami akrab, karena hujan mempertemukan kami. 

Sisa malam itu, aku pakai buat makan di Cafe C didekat hostel. Makan sepiring Kottu dan minum teh tarik panas, bayar 450 Rupee. Jalanan sepi. Tidak banyak yang lalu lalang, tidak ada bus yang lewat, kendaraan juga hampir tidak ada. Restoran sepanjang jalan juga tidak tampak ada keramaian yang berarti. Setelah makan, aku manfaatin waktunya untuk cari souvenir untuk koleksi pribadi dan post card. Pulang, tidur deh.

Rencananya, ingin bangun pagi- pagi buta untuk mendaki Mini Adam`s Peak atau Little Adam`s Peak dan menunggu datangnya matahari secara perlahan menyinari tanah Srilanka. Inilah alasan utamanya, kenapa aku pilih Ella? Walaupun tidak bisa mengunjungi Adam`s Peak versi aslinya, Ella juga menawarkan Mini Adam`s Peak yang tidak kalah indah. Namanya saja sudah mini, berarti versi kecilnya, jalurnya juga pendek, pendakiannya juga enteng.

Eh baru terbangun jam 6 pagi. Cuaca tidak terlalu bagus pagi itu, mendung, sebentar gelap, sebentar terang. Perjalanan sampai ke puncak Mini Adam Peaks sekitar 45 menit. Itu sih relatif, aku sih jalan santai. Sembari menikmati alam yang aku lewati.. Jalan gunung, alam dan masih alami, udaranya segar, tidak ada kendaraan yang lalu lalang, rumah penduduk yang jarang- jarang dan sederhana, bersapa ria dengan anak- anak yang mulai berangkat ke sekolah, sekedar bilang : morning ke penduduk setempat. Arg... rasanya, hidup seperti itu lebih terasa hidupnya. 

Jalanan menuju ke puncak, sudah pasti, menanjak, ada bagian yang sudah ada tangganya, ada yang bagian, kamu harus nginjak batu- batu, sama seperti naik gunung-lah. Mungkin tidak separah seperti naik gunung. Untuk anak gunung, menurutku sih, ini tidak ada artinya sama sekali buat mereka. Tapi buatku, ngap juga... Manusia seperti aku yang jarang olahraga, waloh... capeknya luar biasa, setiap 30 anak tangga, aku berhenti untuk tarik napas.

Apapun itu, seberapa berat apapun perjuangan itu, pada akhirnya, tinggal memetik hasil manisnya. Sama, setelah diatas, yang bakal kamu dapatkan, alam yang indah. Dan satu hal, buatku, terdiam, berpikir, bagaimana Tuhan bisa menciptakan alam seindah ini? Aku takjub, Hanya Tuhan yang punya Kuasa, hanya Tuhan yang sanggup menciptakannya dan Tuhan pula yang akan melenyapkannya. 
Mini Adam Peak, Ella
Aku sih bilang, betapa beruntungnya hidupku, betapa beruntungnya, aku dikasih hobi traveling dan punya kesempatan melihat dunia, melihat alam dan menikmatinya. Ingatlah untuk bersyukur, karena banyak hal di dunia ini yang kamu hanya nikmati saja tanpa harus bersusah payah untuk membuatnya. Jadi, jika tinggal menikmatinya saja juga tidak bisa, hahahah... KETERLALUAN... 

Kalau bukan karena hujan, aku tidak akan beranjak turun secepat itu. Aku hanya sekitar 1 jam. Yang aku suka dari puncak sini, tenang, sepi, hanya ada beberapa turis, tidak berisik, tidak ada kumpulan manusia yang desak- desakan. Bukan berarti tidak ada yang datang. Turis datang dan pergi sesuka hati, setelah puas yang turun. Tidak ada entrance fee. 



Dari Mini Adam`s Peak, aku jalan kaki melewati perkampungan, melewati sawah, rumah penduduk, naik turun bukit sampai ketemu Nine Arch Bridge. Yang menjadi konsen aku saat itu bukan pada tujuan akhirnya, lebih pada proses yang aku lalui, lebih pada apa yang aku dapat sepanjang perjalananku sekitar 1 jam.

Jangan bicara alamnya lagi deh, hahaha... sudah pasti indah, ini buatku. Yang bisa dilihat dari tempat ini ya itu Nine Arch Bridge- nya. Jalur rel kereta api di Ella saja bisa menarik hati para turis untuk mau berusaha payah sebelum bisa melihatnya. Pilihannya, naik turun seperti aku atau bisa dari stasiun kereta Ella, jalan kaki mengikuti rel keretanya, waktunya juga sama, sekitar 45 menit - 1 jam, tapi lebih tidak capek, karena jalanan lurus.
Nine Arch Bridge..
Sembari menunggu datangnya kereta-nya, kamu bisa berfoto- foto disekitaran sana, duduk santai menikmati segarnya udara, kalau aku, lebih pilih diam dan berusaha menyatu dengan alam.

Pulangnya, aku pilih cara tidak capek, tidak perlu mendaki, cukup jalan kaki mengikuti rel kereta sampai stasiun Ella. Stasiunnya kecil dan sederhana. Jee memilih naik kereta ke kota terdekat dari Ella yang berjarak 2 stasiun. Sorenya pulang. Aku, memilih menjelajah sudut Ella lainnya. Dari stasiun, aku jalan kaki menuju Ella`s Edge Resort , sebuah restoran yang menawarkan sarapan pagi sambil melihat pemandangan super keren. Ini sih rekomendasi dari cowok asal Belarus, katanya, walaupun bayar 500 Rupee, tapi pantas, makanannya tidak terlalu mewah, tapi alamnya, kalau dihitung, 500 Rupee itu tidak sebanding. 

Penasaran juga yang membawaku kesana. Waktu sudah menunjukkan jam 10 pagi lewat, hampir jam 11 siang. Breakfast-nya sudah tutup. Mereka tidak ada penawaran buat makan siang. Alhasil, kesempatan yang didapatkan si bule, aku tidak dapatkan. Tidak putus asa, aku pesan minum, ya, pesan minum, aku boleh bersantai dan duduk menikmati pemandangan didepan mata. Restoran ini, sebenarnya adalah hotel juga. Jadi, view dari kamar hotelnya benar- benar luar biasa.

Sempat jalan kaki sekitar 6 km dan akhirnya menyerah. Kali ini, aku menuju ke Ravana Waterfall. Orang- orang yang aku temui bilang, dekat kok, cuma 2 km dari sini, jalan kaki sih bisa, ya kalau 2 km sih aku masih sanggup. Buset, sudah melewati 2 km yang kedua, tuh air terjun masih belum kelihatan. Tanya orang lagi, iya, 2 km dari sini. Itulah yang membuatku akhirnya naik bus saja. Toh cuma bayar 20 Rupee. Tidak ada kejelasan soal 2 km yang mereka punya itu seberapa jauh.
Ravana Waterfall..
Air terjunnya berada tepat ditepi jalan raya. Kudu waspada, bukan pada orang, tapi pada lalu lintasnya, kemudian, mungkin pada monyet- monyet yang ada, waspadanya pada barang bawaan kamu ya... Tidak ada yang istimewa. Terkesan biasa saja.

Oh ya, ternyata, waterfall-nya jauh banget, naik bus saja butuh 10 - 15 menit dari titik terakhir. aku naik bus tadi. Jadinya, saat pulang, tidak mau mengulangi hal yang sama lagi, aku naik bus, turun didekat hostel. Sudah hampir jam 2 siang. Sedari pagi belum makan, cuma ngemil biskuit seadanya. Makan siang sebentar di Downtown Rotti Hut, sebelum balik ke hostel, packing dan pulang ke Colombo. Rakus, sekali pesan 2 menu. Untuk boleh makan kedua macam makanan ini, aku harus bayar 982 Rupee.. hahaha ya sudahlah, menjelang dipenghujung trip. Kebetulan, masih under budget...

Aku masih sempat ketemu Jee sebelum berangkat ke stasiun Ella. Dia masih bermalam di Ella dan besoknya Jee melanjutkan perjalanan selanjutnya ke kota berikutnya. Aku menunggu hampir 2 jam di stasiun. Satu jam pertama menunggu jadwal pembelian tiket kereta, sejam berikutnya menunggu datangnya kereta. Aku memilih second class, pikirku itu sudah kelas yang lumayan, harga tiket dari Ella ke Colombo 350 Rupee dengan menempuh 10 jam perjalanan.
Stasiun Ella
Begitu keretanya datang dan masuk ke gerbong yang dimaksud, ya ampun, ini ya seperti kelas ekonomi.. hahaha.. Pada dasarnya, aku sih tidak masalah, toh sama saja, sama- sama tiba ditujuan. Cuma, karena ini kereta malam, rada was-was juga, beberapa reviews sih bilang, lebih berhati- hati saja kalau naik kereta malam. Makanya, aku beli kelas kedua.
Dalam kerete menuju Colombo..
Setelah aku selidiki, second class yang dibeli online, gerbongnya beda dengan secong class yang beli on the spot. Ya sudahlah, malam itu, tidur- tidur ayam sahaja. Tempat duduknya, kalau kamu ingin tahu, keras, dudukannya tegak, hahahaha... Tidak nyaman banget. Yang penting, aku selamat dan tidak ada kendala apapun, tiba di Colombo tanpa ada kekurangan satu hal apapun.

With Love,

@ranselahok
---semoga semua mahluk hidup berbahagia---




Share on Google Plus

About ransel ahok

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar :

Post a Comment

Powered by Blogger.

Popular Posts