Jalur Neraka Luang Prabang Ke Hanoi,Vietnam.

Iya, jalur neraka, mereka menyebutnya demikian. Para backpacker selalu menggunakan kata- kata menyeramkan itu untuk melukiskan perjalanan dari Luang Prabang ke Hanoi atau sebaliknya. Justru pemilihan kata- kata itu sungguh menantang buatku. Sejak setahun lalu, saat aku sedang bongkar- bongkar gudang Om Google, aku sudah tidak sabar untuk melewati jalur neraka yang disebutkan banyak orang itu. Tanpa ragu dan berpikir kedua kalinya, begitu, Airasia, pesawat sejuta umat mengumbar promo ke Laos dan Vietnam, aku langsung beli. 
Kohei dan aku di Sleeper Bus
Penantian yang panjang sembari mencari tahu, bagaimana penyusunan itinerary yang baik untuk overland, walau akhirnya, aku menyadari, jumlah hari yang aku habiskan itu tanggung dan serba terbatas. Tapi, tetap meninggalkan kesan dan mempunyai pengalaman yang luar biasa. Jadwal yang padat, jadwal yang mengharuskan aku kejar waktu dan tidak bisa santai lebih lama itu, memberiku trip penuh arti. 
Dingin banget
Perkara utama trip aku kali itu, sudah pasti harus berpindah dari satu kota ke kota lainnya. Pakai bus dan menghabiskan waktu lebih dari 1 hari didalam bus saja. Inilah kenapa mereka mengatakannya sebagai jalur neraka. Bus melewati kota per kota, menyusuri pedesaan, masuk ke perkampungan hingga membelah gunung. Tidak jarang, kanan atau kiri adalah jurang. Tantangannya, bukan itu sebenarnya. Bukan karena semata itu saja. Tantangan sesungguhnya adalah diri sendiri. Apa yang bisa kamu lakukan, jika harus menghabiskan 27 jam didalam bus tanpa bisa berbuat apa-apa, kecuali tidur dan tidur lagi. 
Kondisi dalam bus
Jenis bus yang dipakai adalah sleeper bus, which is, kondisi busnya memang di-setting buat bisa tidur. Sepanjang perjalanan 27 jam itu, kamu hanya bisa dalam posisi tiduran, duduk? Bisa... tapi susah banget. Karena begitu duduk, kalau kamu tipe manusia yang punya kaki lebih panjang, kepala kamu akan kena ke langit- langit bus. Dan, posisi paling nyaman, memang tiduran. Tidak kebayang, bule- bule yang punya kaki panjang itu, gimana melewati perjalanan itu. Mungkin itu sebabnya, istilah jalur neraka itu berawal. Mungkin !!!

Ketemu Jessica dan pasangannya yang sudah traveling 6 tahun dari Spanyol
Bus ada wifi gratis, kadang on- kadang off. Tidak ada stop kontak, so, kamu harus persiapan banget, isi penuh seluruh senjata kamu sebelum naik bus. Soal kenyamanan, aku bilang iya, nyaman, bersih bahkan sangat bersih. Setiap penumpang yang naik kedalam bus, akan diberi kantongan plastik untuk menyimpan alas kaki masing- masing. Sleeper bus ini bertingkat. Harganya sama saja. Tapi pengalamanku dan pengamatanku, lebih baik pilih bed atas, Tidak pusingin orang yang ada diatas, kalau geser- geser badan atau aroma apapun itu. 
Border di Laos
Total, 27 jam aku didalam bus dan aku berhasil menantang diriku sendiri, aku berhasil melewati seramnya jalur neraka yang disebut banyak orang. Bosan? Untung aku tidak terlalu. Stress? Tidak juga. Aku malah menikmatinya. Senjataku cuma 1 buku tentang traveling dan baterei handphone yang full, wara - wiri kanan - kiri , alakadarnya saja. 

Bahkan sebagian waktu yang aku habiskan dalam perjalanan itu, aku pakai buat untuk intropeksi diri. Aku pakai untuk meresapi hidup yang aku punya dan yang telah aku dapat selama ini. Semacam healing trip gitu. Tapi bukan healing juga kali ya? Aku tidak sedang kenapa- kenapa kok. Iya, nice word. Intropeksi diri. Merenung. What i want to actually in my life? Walau, sampai sekarang, masih belum menemukannya. Perenungan yang tidak mendapatkan hasil. Itulah intropeksi diri bukan? Bukan menghakimi diri sendiri. 

Menuju ke Border Vietnam
Selain, tidur dan tidur sampai kamu bosan tidur. Kamu hanya bisa lakukan hal- hal ringan yang kamu suka. Dengarin musik, berselancar didunia maya kalau wifi-nya sedang on, baca buku, ngobrol sama tetangga, itupun kalau komunikasi 2 arah tercipta. Paling bagus sih, trip-nya dilakukan berdua. Nah, aku? Sendiri.. Kebetulan, ketemu Kohei, backpacker asal Jepang, yang mempunyai tujuan perjalanan yang sama sedari Viantiane sampai Hanoi. 
Hujan cuyy...
Sejenak tentang Kohei. Aku salut dan acungi jempol buat dia. Tidak bisa berbahasa Inggris, hanya mengandalkan google translate, segala informasi tentang trip sudah di screenshoot, tinggal baca doang, bahkan cara menggunakan atm saja dia sudah screenshoot. Terpenting, hanya menggunakan tekad, kemauan dan keberanian, dia keliling Indochina selama 1 bulan. Terakhir, minggu lalu, aku hubungi dia, masih di Kamboja. Keren... Tidak ada alasan berarti yang bisa menghalangi kamu traveling. Melangkahlah, kamu baru akan tahu seperti apa, dunia ini sesungguhnya. Good luck, my friend, Kohei... Keep traveling. Ayo, kapan- kapan kita keliling dunia bersama.. 

Bus tidak punya fasilitas kamar kecil. Bus akan berhenti semau supirnya saja. Buang air kecil, ya sembarang saja. Toilet ada dimana- mana. Dimana yang ditunjuk supir, disitulah toiletnya. Tidak seperti di Indonesia, perjalanan dari Jakarta - Bali, bisa dengan gampang menemukan rest area. Disana tidak ada sama sekali. Bule cewek itu, ya pipisnya ya sekenanya saja disemak- semak. Dari alam kembali ke alam, bukan? Hahahaa... 

Cross border
Sepanjang perjalanan 27 jam, bus baru benar- benar berhenti ketika harus melewati perbatasan antara Laos ke Vietnam. Makan waktu sekitar 1 jam karena harus menunggu perbatasan buka. Kedua kalinya, ketika sudah jam 12 siang, jamnya makan siang. Selebihnya, rebahan deh didalam bus. Tidak ada kesulitan apapun saat di imigrasi Laos maupun Vietnam. Pengalamanku tidak separah dibanding backpacker lain, yang katanya harus kasih uang dan dipersulit. Aku tidak sama sekali.

Aku sengaja pilih rute Luang Prabang ke Hanoi dengan maksud, setelah perjuangan yang berat, setibanya di Hanoi, aku bisa melepaskan kepenatan dan letihnya 27 jam didalam bus dengan mengunjungi Halong Bay. Dan itu terjadi. 
Buang apa yang bisa dibuang..
Tiket bus bisa didapat travel agent mana saja di Luang Prabang. Hanya terletak disoal harga saja. Aku akhirnya dapat harga paling murah, 370.000 Kip. Beli langsung di terminal, 360.000 Kip. Sedangkan yang lainnya, ada yang bahkan diatas 400.000 Kip. Triknya, rajin- rajin deh, cari perbandingan harga. 

Bus akan berangkat setiap jam 6 sore, setahu aku, hanya ada 1 jadwal saja menuju ke Hanoi. Peraturannya, harus tiba di terminal 1 jam sebelum jam keberangkatan. Setelah bus berangkat, tidak ada acara berhenti untuk makan malam. Jadi, isilah perut terlebih dahulu. Beli minum dan cemilan juga. 
Kozue, Kohei dan Aku sempat eksis di jalanan Luang Prabang
Kozue Kunimi, backpacker cewek asal Jepang, berangkat bareng dengan Kohei dan aku dari hostel menuju ke terminal. Tujuan dia ke Chiang Mai, Thailand, katanya butuh 24 jam perjalanan juga dengan bus model duduk seperti biasa. Kami sempat ngegembel sebentar saat sedang menunggu E- Bus punya Luang Prabang, hanya butuh bayar 3000 Kip saja per orang, dibanding naik tuk- tuk yang jauh lebih mahal. 

Jadi, seseram julukannya-kah perjalanan dari Laos ke Hanoi? 

Ini seperti, tidak pernah mencoba, seumur hidup tidak pernah tahu. Sesukar apapun kendala hidup, jika tidak mencoba untuk menjalaninya dan mencoba untuk menyelesaikannya, tetap akan menjadi kendala hidupmu seumur hidup. 

With Love,

@ranselahok

---semoga semua mahluk hidup berbahagia---







Share on Google Plus

About ransel ahok

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar :

Post a Comment

Powered by Blogger.

Popular Posts