2 Hari Jalan - Jalan di Hat Yai, Thailand Selatan

Tanggal 27 Juli 2014

Baca juga : awal perjalanan ini 

Tiba di Terminal Hat Yai, hal pertama yang kami lakukan adalah mencari tiket bus ke Penang - Malaysia. Untuk mencari aman saja, walaupun berangkat ke Penangnya tanggal 28 Juli, besoknya. 2 tiket bus ke Penang @490 Baht ( 1 Baht = Rp 390,- ) sudah ada ditangan. Selanjutnya adalah mencari penginapan. Buru- buru mencari angkutan yang bisa membawa kami kesana. Dengan tuk- tuk, alat transportasi lokal Thailand, kami diantar ke pusat keramaian kota Hat Yai. Kami harus membayar 50 Baht untuk 2 orang.


Kali ini, saya memang tidak ada beli voucher hotel dari Jakarta, seperti trip saya sebelumnya. Ingin mencoba "go show" saja. Mengingat pernah baca dari satu blog, hotel yang direkomendasikan adalah Lee Garden. Eh.. kami diturunkan tuk- tuk tepat didepan hotel itu. Sudah melangkah masuk, kami keluar lagi. Berpikir, rate hotel ini pasti mahal, dari penampilannya, apalagi sedang musim liburan dan go show begitu. Kami berpindah beberapa langkah, tepatnya hanya disebelah hotel Lee Garden, ada Green Garden Hotel. Sebenarnya ya hampir sama saja. Lobby penuh dengan tamu, setelah proses ini itu, akhirnya dapat juga 1 kamar untuk berdua untuk satu malam dengan rate 1080 Baht.

Sambil menunggu teman mandi, saya mencari tuk- tuk yang bisa disewa untuk membawa kami mengunjungi tempat wisata. Panjang lebar negosiasi, untuk mengunjungi Wat Hat Yai Nai Tempel , Samila Beach  yang terletak ditempat wisata Songkha, 30 Km dari  Hat Yai, Hat Yai Municipal Park  dan Floating Market. Total biaya untuk berdua adalah 1500 Baht, tidak pakai tuk- tuk. Kami diantar pakai mobil sedan yang nyaman. Takut keburu malam, perjalanan ke tempat- tempat wisata itu terkesan cepat dan singkat. Alhasil, kurang santai dan kurang menikmati alam wisatanya yang ada disana. Berangkat dari hotel jam 4.30 sore.

1. Wat Hat Yai Nai Temple



Temple ini menjadi objek wisata pertama yang kami datangi. Untuk masuk ketempat wisata ini, tidak bayar. Kita bisa langsung masuk kedalam vihara, dimana ada satu patung Buddha yang sedang berbaring dalam ukuran yang besar. Hampir sama dengan patung Buddha yang ada di Wat Poh , Bangkok.


Tidak banyak yang bisa dilihat dilihat dari tempat ini, jika kamu beragama Buddha, kamu bisa masuk kedalam untuk berdoa. Lebih banyak orang jadikan objek patung Buddha sebagai latar foto mereka. Termasuk salah satu bangunan yang terletak disisi kanan bangunan utamanya. Tidak tahu fungsi bangunan itu.

2. Samila Beach, Songhka
Dari temple, kami ganti kendaraan yang awalnya kami dari hotel pakai tuk- tuk. Disini, kami diantar pakai mobil menuju ke Samila Beach. Membutuhkan waktu sekitar 45 menit untuk bisa sampai di pantai. Saya memilih untuk tetap terbangun dan melihat pemandangan sepanjang perjalanan, walau kantok sudah tidak bisa ditahan lagi. Ya merasa rugi saja.


Pemandangan baru mulai menarik hati ketika mobil mulai memasuki kota Songkha, terutama saat memasuki area pantai. Rasanya plong, melihat pantai, air dan garis pembatas laut dan langit serta awan yang bergantungan dilangit. Hari itu cuaca cerah sekali.

Disini sama, masuk ke area pantai tidak perlu bayar. Tempat ini tergolong bersih, suasana cukup ramai untuk senja hari itu, memang, jika mau dibandingkan dengan pantai di Bali, terutama di Dreamland, Samila Beach masih kalah indah, tapi jauh lebih bersih , tertata dan indah jika dibanding Pantai Kuta, Bali.


Sejurus kemudian, mata mencari apa yang banyak dibicarakan orang, Lady Mermaid. Patung putri duyung ini menjadi icon Samila Beach beberapa tahun ini. Butuh kesabaran yang ekstra untuk bisa foto bareng sang Putri Duyung. Antrian yang tidak henti- hentinya, apalagi jika kamu ingin dapat foto terbaik, angle terbaik, tanpa ada orang lain dalam foto kamu.


Satu kejadian tidak mengenakan hati setelah puas dengan seisi pantai. Melihat banyak orang makan ice cream keliling , terdorong niat ingin mencicipinya. Harganya 10 Baht / potong. Rasa ice creamnya ya lumayanlah, saya lupa makan rasa apa, karena terlanjur kesal. Bagaimana tidak ? Untuk sepotong ice cream yang hanya 10 Baht, saya bayar dengan 20 RINGGIT untuk 2 potong. Harusnya kan cuma 20 Baht. Bisa hitung sendiri ya, selisih ratenya. Tapi ya sudahlah, berusaha kembali mencari si penjual ice cream, sudah tidak ada ditempat.

3. Hat Yai Municipal Park
Kami harus kembali ke Hat Yai lagi untuk bisa sampai di Municipal Park. Objek wisata ini terletak diatas gunung. Tiba dipuncak yang paling tinggi, matahari sudah mulai kembali keperaduannya. Langit sudah mulai gelap, seketika itu, perasaan terburu- buru mulai terasa.


Di puncak gunung ini, tempat ibadah " Si Bin Hut - atau Buddha 4 Rupa " dimana Buddha ini menghadap ke 4 penjuru mata angin. Saya berdoa sebentar, kemudian berfoto sekedarnya. Disini juga ada cable car. Saat kami disana, cable car sedang tidak berfungsi, mungkin karena jam operasionalnya sudah lewat. Saya juga tidak tahu, cable car ini menghubungkan dari tempat ini kemana.


Turun dari puncak gunung, kami pakai mobil lagi menuju tempat paling okey, tempat paling indah dan paling luar biasa. Selain ada patung Buddha Sakyamuni yang tingginya ( 19.9 m  ). Sampai ditempat ini, langit sudah gelap, tinggal cahaya lampu yang memancar.


Satu kekecewaan yang tersisa, datang pada jam yang salah. Harusnya sekitar jam 5 sore , ada disini, karena, dari tempat ini, pemandanganya langsung ke seluruh Hat Yai. Kita bisa duduk santai sambil menikmati senja, terpaan angin sore dan melihat indahnya hidup ini. Yang ada, kami hanya menikmati cahaya lampu dari sudut kota, termasuk kurang menikmati Megahnya patung Buddha yang berdiri disana.

Dari tempat ini, tersedia anak tangga ( jumlahnya tidak tahu ), untuk bisa turun ke tempat ibadah Dewi Kwam Im. Kami lebih memilih pakai mobil supaya menghemat waktu. Bayangkan saja, jika kami datang sore, bisa nikmati anak tangga, duduk disana.


Jika sesuai dengan rencana, kami selanjutnya pergi ke Floating Market. Rencana ini dibatalkan, setelah kami memutuskan untuk menonton Ladyboy Show. Pengulasan tentang show ini akan saya tulis terpisah, tentu bukan dari segi vulgarnya ya. Ada makna hidup tersendiri bagiku setelah menonton show kali ini. Keluar dari show, kami naik tuk- tuk untuk kembali ke sekitar hotel yang katanya, sudut kota yang paling ramai di Hat Yai. Dengan ongkos 30 baht per orang, kami sampai disana 5 menit kemudian. Iya saja, ramai, penuh dengan orang lalu- lalang, penuh dengan jajanan yang buat ngiler.

Dan inilah hasil perburuan kuliner satu  malam di Hat Yai :
1. Manggo Stick Rice
Ini yang paling wajib diantara sederet kuliner yang wajib diburu. Isinya pulut ketan yang disiram dengan santan dan diatasnya dikasih buah mangga. Rasanya maknyusssss...... Di Hat Yai sepertinya lebih mahal  ( 70 baht ) dibanding yang pernah saya makan di Bangkok dan Pattaya. Oh ya, ada juga durian stick rice.



2. Ayam Goreng
Kalau di Indonesia, ayam goreng menjadi teman makan nasi, kalau disana, ayam goreng malah menjadi jajanan. Sepotong paha ayam goreng seharga 70 baht. Rasanya sih biasa saja, digoreng pakai bumbu. Selain itu, ada juga udang lobster, peyek udang,



3. Tom Yam Gong
Sop pedas seafood khas Thailand ini juga satu kewajiban yang tidak boleh dilewatkan. Sebenarnya sih, Tom Yam Gong ini banyak dijumpai di restoran Thailand di Indonesia. Rasanya juga hampir sama, pedas asam gimana gitu. Karena disini asalnya kuliner ini, tidak ada salahnya untuk mencoba. Semangkuk begini harganya 100 baht.


4. Soup Buah
DI Indonesia, makanan ini dikenal dengan soup buah. Ini lebih seperti makanan kesehatan-lah. Cukup menyegarkan tenggorokan.


Tidak terasa, sudah jam 11 malam lebih. Kaki pegal, perut kenyang banget dan sisanya adalah tidur. Malam sebelumnya kurang tidur karena di bus. Hari yang lelah nan menyenangkan. Sekilas, Hat Yai, kota di Thailand Selatan ini paling dekat ke Pulau Pinang, Malaysia. Tidak heran, bahasa yang digunakan, sebagian penjual masih bisa bahasa Melayu, Hokkian, Mandarin. Termasuk penjual jajanan, kebanyakan perempuan berjilbab.

Kehidupan warga lokal, agak santai. Tidak seperti Ibukota Thailand, Bangkok. Jalanan juga tidak macet. Namun saat akan melakukan transaksi baik sewa tuk - tuk atau belanja di pasar, cobalah untuk tawar menawar. Cuaca panas banget, matahari terik siap membakar kulit kamu. Turis yang masuk kesana, kebanyakan dari Indonesia, sebagian besar dari Medan, bisa diketahui, dari logat bahasa yang sedang mereka pakai.

Tungguin ya cerita selanjutnya, belanja di Pasar Hat Yai dan perjalanan ke Pulau Penang, Malaysia.

With love,

---semoga semua mahluk hidup berbahagia---




Share on Google Plus

About ransel ahok

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

4 komentar :

  1. Enak bener, jalan jalan ke thailand :l

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya nih.. seru...makasih ya sudah mampir..

      Delete
  2. wah seru ya thailand selatan semoga bisa nyampe sana juga yah aamiin....wah sanila ada duyungnya bisa di bawa pulang tak?? hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. gotong ramai- ramai aja yukk. hehehe...

      Delete

Powered by Blogger.

Popular Posts