Hostel Di Nago, Okinawa, Jepang.

Tanggal 22 September 2017
Karena aturan tidak boleh ada yang menginap di asrama Kosuke, selama di Nago, aku nginap di Asian Guesthouse Border Nago. Per malam aku bayar Rp 228.000,- untuk kamar dorm, tidak ada sarapan, dapat AC, ada hot shower dan free wifi yang kencang. Sebelumnya, bisa baca disini pengalaman trip ke Nago, Okinawa Jepang. 
Asian Guesthouse Border di Nago menjadi hostel tersepi yang paling aku datangi sepanjang pengalamanku keliling. Terletak agak jauh dari inti kota, sepi dan tenang. Depannya memang sudah pantai, tapi bukan pantai buat rekreasi. 
Kemudian, hostelnya bukan terletak dipinggir jalan. Rada masuk ke dalam gitu. Tersembunyi dan menyendiri. Belakangnya, semua pepohonan. Benar- benar sepi dan tenang. Tinggal duduk santai, suara merdu dari burung yang saling bersahutan akan terdengar. Teringat waktu itu, aku suka, inginnya tidak pulang.

Karena, mungkin bukan season-nya, hostel itu benar- benar sepi. Bukan hanya karena sepi jauh dari keramaian, tapi karena tidak ada tamunya. Dan aku, terhitung tamu satu- satunya yang menginap di malam pertama dan kedua, sedangkan malam ketiga, baru ada satu orang Jepang yang entah dari mana asalnya nginap. 
Belum lagi, karena aku bayar kamar dorm, kamarnya menyendiri di lantai 2 dibagian luar lagi. Awalnya, pas baru checked in, aku sih rada jiper juga sih. Buset. Angker sih tidak. Tapi gimana ya mengungkapkannya. Rumah sendiri gitu, belakangnya hutan, sepi, rada gelap, karena memang tidak ada orang kecuali owner-nya ( mungkin staffnya). 
Prilaku staff-nya juga rada sedikit aneh. Aku sih berusaha tenang dan berusaha menyesuaikan diri. Diajak keliling, dikasih tahu, ini- itu, sampai diantar di kamar, tambah galau. Aduh, benaran, aku tidur sendirian kek gini, sendirian, diatas, mana tidak ada pintu kamar lagi. Cuma ada kain penutup doang. 
Kamar tidur...
Setelah Kosuke pulang, pikiran semakin menjadi. Kebanyakan nonton film pyshco kali ya. Takutnya, malam- malam staff-nya masuk ke kamar, terus aku dimutalasi, atau aku dikurung, macam difilm- film itu, kan seram. Ya ampun, mau tidur, juga was-was. 
Ternyata, 
Sampai pagi buta, sampai matahari menyinari Okinawa, aman- aman saja. Hati juga lega. Ya, bagaimana tidak berpikiran tidak- tidak? Keadaanya begitu sih. Saat booked via Agoda, aku baca reviews sih bagus. Aku tahu, tempatnya memang sepi dan tenang, lebih mendekatkan diri ke alam, tenang dan nyenangi, tapi bukan berarti jauh dari kota dan kesepian seperti itu, apalagi tidak ada tamu lain. Hajab. Ya karena, reviews seperti itu aku jadi tertarik. 

Ya sudahlah, toh sudah tidak ada masalah. Malahan aku bilang, tempat ini luar biasa. Okey buat kamu yang suka menyendiri, suka yang dekat ke alam. Serius, staff-nya baik, berusaha ramah dan sopan. Design hostel-nya juga keren. Mayoritas dari kayu gitu. Dari tampilan dalamnya, kelihatan sih sudah banyak tamu yang nginap disini. Hanya saja, ya itu, mungkin pas aku kesana bukan season-nya. 
Oleh staff-nya bilang, mungkin aku orang Indonesia pertama yang nginap di tempat dia. Entah memang begitu atau dia lupa. Dia juga menyediakan air minum dari kran. Boleh masak sih kalau kamu mau. Terus dia ada fasilitas laundry untuk sekali putar mesin bayar 20 Yen, terserah seberapa banyak baju kamu. Dia bantu kamu cuci dan jemur. 
Tapi, kalau kamu mau nginap disini, kamu wajib makan dulu sebelum pulang ke hostel. Atau kamu beli bahan mentah kemudian masak sendiri di hostel. Karena, tidak ada yang jualan makanan disitu. Bahkan semacam toko sekelas mart saja tidak ada. Atau parahnya, aku bahkan tidak bertemu dengan para tetangga dia. 
Begitulah Jepang, orangnya sih luar biasa ramah dan disiplin. Percaya orang lain dan jujur. Hostel, aku yakin siangnya, dia tinggalin begitu saja, staffnya keluar ntah kemana. Saat pagi, masih di hostel, aku sendirian. Sudah seperti rumah pribadi. Begitu aku pergi, ya itu, hostel kosong tanpa dikunci. Saat aku checked out kemaren, dia malah tidak ada.
Tidak ada bus yang lewat didepan hostel ini. Entahlah, bagaimana tamunya mendapatkan tempatnya? Buat aku, kalau ke Nago lagi, aku sih mau balik lagi ke sini. Dengan catatan, ada transportasi untuk keluar masuk. Kalau tidak, jalan kaki? Habis waktu…. Hahahah..

Spot paling seru dari hostel, di teras lantai 2. Ruang terbuka. Sofa buat santai, ada hammock, ada tempat tidur buat bermalas- malasan. Menikmati alam. Menikmati suara burung. Menikmati pantai yang seadanya. Dan malamnya, menikmati bintang yang bertebaran dimana- mana. Karena Okinawa begitu luar biasa, begitu alami, begitu dekat dengan alam. Antara langit dan bumi seakan tidak ada pembatasnya. Antara langit dan bumi menyatu, begitu dekat, sehingga, kamu akan merasa kamu begitu dengan alam. 

With Love,
@ranselahok
---Semoga semua mahluk hidup berbahagia---
Share on Google Plus

About ranselahok

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar :

Post a comment

Powered by Blogger.

Popular Posts