Penginapan Murah Di Marrakech,Maroko.

Tanggal 20 Desember 2018. 

Setelah menempuh perjalanan jauh yang dimulai dari Kuala Lumpur dan berakhir di Casablanca dengan menumpang pesawat A380 punya Emirates, akhirnya, aku menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di bumi Afrika. Beli tiket juga termasuk mendadak, tapi dapat harga yang lumayan bagus walaupun bukan yang termurah. Sekitar Rp 13 jutaan untuk sekelas Emirates, sudah masuk peak season dan pulang pergi dengan pesawat A380 dan bisa transit 3 hari di Dubai sebelum terbang balik ke Kuala Lumpur.

Pemandangan langsung ke Pegunungan Atlas dari Palais El Badi.
Begitu mendarat di Casablanca, Maroko, Utaranya Afrika, pesawat cuma bisa parkir di apron, mungkin karena pesawat jumbo, sedangkan bandaranya tidak memadai untuk menampung sang burung terbang raksasa ini. Penumpang turun lewat tangga biasa, kemudian naik bus menuju terminal kedatangan. Antri barisan untuk bertatap muka dengan bapak imigrasi. Tidak perlu waktu yang lama, tidak ditanya apapun, jeklek... paspor sudah dikembalikan. Oh ya, tidak perlu visa untuk bisa masuk ke Maroko. Hanya perlu kartu kedatangan dan paspor saja. Ya kayak lagi main ke Singapore saja. 

Setelah beres urusan ambil bagasi, hal pertama yang dilakukan adalah ambil simcard gratis. Ada mbak- mbak kece di booth yang bagi- bagi simcard gratis. Tinggal kamu sapa saja, kasih paspor kamu, tuh dikasih simcard. Aku malah minta 2 simcard-nya. 


Karena tujuan utama aku ke Maroko adalah Marakesh, jadinya aku bergegas mencari dimana letak kereta yang bisa membawaku ke Marakesh secepat mungkin. Aku tidak mau tiba di Marakesh di malam hari. Belum ada bayangan sama sekali tentang Marakesh. 

Satu kebodohan pertama yang aku lakukan, tidak tukar uang Dirham Maroko. Ya aku pikir, bisa pakai kartu kredit seperti negara lain pada umumnya saat beli tiket kereta. Dan hello, ini di Casablanca, masak masih secupu inikah ? Dan beneran saja, sudah antri lama, ketika sudah didepan loket, aku gagal beli tiket. Hanya terima cash dan kartu kredit lokal. Terpaksa, aku balik lagi ke atas, cari money changer. Gampang kok cari dimana letak keretanya, petunjuknya jelas. 

Takjin menjadi makanan lokal yang paling dicari...
Harga ist class 214 Dirham, sedangkan untuk 2nd class 164 Dirham. Untuk beli tiket, sebenarnya ada mesin tiket sih, tapi aku juga heran, kenapa, semua orang lebih suka antri panjang dan beli langsung sama petugas ya? Apakah takut salah? Aku sendiri, akhirnya setelah dapat uang Dirham, aku beli dimesin tiket, dibantu petugasnya, jadi, tidak perlu antri panjang lagi. 


Harus transit satu kali jika mau ke Marakesh. Tidak perlu khawatir. Ini mudah banget. Di tiket juga tertera jelas kok. Tergantung kamu dapat kereta yang jam berapa. Rutenya beda- beda kali ya. Karena waktu itu, aku dapat station transit berbeda dengan aku pernah baca. 
Marrakech Station.
Kereta menuju Marakesh lebih kurang 4 jam. Sepanjang perjalanan, ada kalanya ada pemandangan bagus, kadang juga gersang dan tidak ada yang bisa dinikmati. Bisa beli makan dan minum diatas kereta. Dan setibanya di station Marakesh, langsung cari bus menuju ke Jemaa El- Fnaa, atau Marakesh square yang ramainya sungguh luar biasa. Hostel aku berada disalah satu gang dekat square disana. 
Marrakech Square
Dengan bantuan google maps dan petunjuk dari station kereta, aku keluar dari pintu utama station, belok kanan, jalan terus, nyebrang, kemudian cari bus stop. Cuma bayar 4 Dirham saja sudah sampai di square. Turun bus, mata langsung takjub, sesaat sudah berada dilautan manusia. Padat. Entahlah, yang jualan-lah, yang jadi turis-lah, yang warga lokal-lah, semua berbaur jadi 1. Berisik. Yups, ditawarin ini-itu. Dan aku hanya konsen jalan mencari hostel dan siaga, jangan sampai ketemu suling yang bisa mengeluarkan ular dari sarangnya. Siaga menghindar, siap kabur....


Tidak susah untuk sampai di hostel yang aku tuju. Aku nginap di Hostel Riad Marrakech Rouge. Letaknya memang agak jauh dari pusat keramaian. Tapi dekat ke pasar- pasar dan mau cari makan juga gampang sih. Ya kalau mau dibilang jauh, tidak juga sih. Disitu- situ juga. 


Aku bayar 21 Euro untuk 2 malam, kamar dorm. Aku booked online, jatuhnya lebih mahal jika dibanding bayar ditempat. Aku hanya bayar 8 Euro untuk malam terakhir aku di sana, ketika sudah kembali dari Gurun Sahara. Termasuk murah sih, tapi tempatnya standart. 

Bangunannya batu, jadinya sepanjang hari dingin banget, apalagi menjelang pagi. Yupss, aku ke sana sudah winter. Dan saat itu, dingin banget. Katanya kalau summer, panasnya itu minta ampun juga sih. Dapat sarapan gratis ala Maroko. Wifi yang nyesak didada. Parah banget, dan hanya ada di living room. Tidak ada pemanas ruangan, sehingga bawalah apapun yang bisa buat kamu hangat dan bisa tidur dengan nyenyak. Disediakan selimut tebal sih. Aku sampai ambil selimut tambahan lagi. 
Marrakesh hostel.
Kamar mandinya terpisah dan lumayan juga jaraknya dari kamar tidur. Bersih sih. Ala shower, tapi airnya kecil banget, bikin greget, apalagi air panasnya kurang nendang, lah.. sudah dingin banget, bagaimana coba? Ya itulah, ada uang ada barang... begitulah kira-kira kalimatnya yang pas. Tidak ada loker penyimpan barang- barang. Jadi, jaga barang berharga masing- masing. Tidak ada sedia air minum. 


Di hostel ini juga ada jual paket tour ke Gurun Sahara dan tempat- tempat lainnya. Pilihannya ada ditangan kamu, mau kemana dan mau berapa hari punya. Aku sih tidak bandingkan harga dengan yang dijual travel tour diluar sana. Banyak banget yang jualan. Aku cuma pikir, ya sudah, karena nginap disini, lagian, biar pas pagi, mau berangkat juga gampang, tidak khawatir, travel tour-nya benaran datang jemput atau tidak? Intinya, nilai 6,5 deh untuk hostel ini. 

Palais El Badi.
Selama di Marrakech, aku cuma main ke Palais El Badi dan jalan- jalan santai sekitarnya saja. Walaupun dingin, tapi siang hari, matahari terasa juga, menusuk dan membakar kulit. Untuk masuk ke Palais El Badi, harus bayar. Seputaran kotanya sih standart-lah. Banyak yang berjualan. Kalau aku sih merasa aman ya, jalan- jalan sendirian juga terasa nyaman, walaupun yang tawarin ini-itu banyak banget. Tentu, jangan berharap kotanya bakalan seperti kota- kota besar di negara- negara Eropa. Tidak bisa dibandingin. Penduduk lokalnya taat beragama loh, sejauh yang aku lihat. Taat sholat 5 waktu. Dan aku rasakan, mereka ramah- ramah kok. Untuk yang jualan, memang sedikit memaksa, tapi masih sopan. Namanya juga berusaha.

Belanja kudu ditawar, paling tidak setengah harga dari yang dikasih. Untuk makan, aku lebih sering makan Tajine, aku suka saja, sudah menjadi makanan yang wajib dicoba. Bumbunya masih bisa diterima lidah. Harga makanan ya masih tergolong okey, karena tempat wisata. Oh ya, setiap kali habis makan dan mau bayar, pasti dimintai tip. Parahnya, ada yang langsung tambahin, ada yang minta. Hahahah..Jadi, sudah semacam kewajiban gitu. Di Moroko, makanannya halal semua ya.

Kebersihan kotanya, aku pikir termasuk bersih. Tidak banyak sampah yang berserakan. Dan, serunya, semua orang sukanya menebak, aku itu asalnya dari mana? Negara pertama, pasti, China? No.. Japan? No.. Korea? Thailand? Singapore? Taiwan? bla...blaa... ada yang sampai penasaran... diminta tunggu, sampai dia dapat jawabannya. Hahaha... Indonesia lah... Aku dari Indonesia... Susah banget.


Tujuan di Marrakech adalah main ke Gurun Sahara, jadi, tunggu postingan selanjutnya tentang Gurun Sahara ya.. segera...

With Love,

@ranselahok
---Semoga semua mahluk hidup berbahagia---





Share on Google Plus

About ransel ahok

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar :

Post a Comment

Powered by Blogger.

Popular Posts