Mau Ke Brunei? Baca Dulu Ini...

Tanggal 28 Oktober 2016.

Ketika pesawat Airasia yang membawaku dari KLIA2 mendarat di Bandara International Brunei Darussalam, ketika itu juga, aku seakan pulang kampung halaman, Medan. Hahaha.. iya, dulu, sebelum Kuala Namu International Airport beroperasi, Bandara Polonia-lah yang menjadi pintu keluar masuk turis ke kota tercintaku, Medan. Traffic penerbangan yang sepi, pesawat yang parkir cuma ada 1. Tapi dari segi bangunan, Bandara Brunei jauh lebih modern dan canggih dibanding Bandara Polonia. 

Dan aku mau bilang,  akhirnya, mimpiku keliling ASEAN terwujud sudah. Trip singkat kemaren ke Brunei menjadi kenangan tersendiri. Betul, selain untuk melengkapi negara- negara ASEAN, aku juga penasaran dengan negara kecil nan kaya raya itu seperti apa? Bagaimana kehidupannya disana dan bagaimana mereka melewati hidupnya dinegara yang disebut- sebut sebagai salah satu negara terkaya di dunia. Angkuh? Sombong? Atau bagaimana sih?

Jelas, secara pariwisata, aku sih bilang, tidak banyak yang bisa didapat dari sini. Aku hanya menghabiskan waktu 3 hari saja disana. Bukan tidak ada tempat wisatanya, ada kok. Bagus? Tergantung ke selera masing- masing. Tapi, menurutku, pemerintahnya memang tidak fokus di sektor pariwisata mereka. Padahal kalau mau dibilang, mereka, sebenarnya juga punya kekayaan bawah laut yang keren juga, mereka juga punya pantai, mereka bisa jual watersport dan sebagainya. Ya itu, karena sudah kaya, apalah artinya uang kecil seperti itu. 

Kehidupan di Brunei tuh sangat lambat. Orangnya kelihatannya santai banget. Pelan nyaris perlahan. Jalanan sepi banget. Tidak banyak kendaraan yang berlalu lintas. Apalagi tranportasi umum, wadew, sungguh sedikit. Baca disini, naik bus 1 dollar keliling Brunei. 

Brunei pakai mata uang Dollar Brunei, atau mereka singkat dengan BND. Tapi di Brunei juga, kamu bisa bayar pakai Dollar Singapore, yang notabene nilanya disetarakan. Tidak mendapatkan alasannya yang pasti, walaupun kemaren sempat tanya ke orang lokal. ( 1 BND = 1 SGD = Rp 9.804,- ). Oh ya, koin 1 SGD tidak diterima disini, kecuali uang kertas dan koin 50 sen. Semakin penasaran saja… Mereka juga menyebut Dollar Brunei dengan Ringgit. Tapi bukan Ringgit Malaysia. 

Waktu terbaik buat kunjungi Brunei sebenarnya adalah hari raya Idul Fitri atau lebaran. Karena waktu itu, Istana Sultan akan dibuka untuk umum. Selain bisa berjabat tangan dengan Sang Sultan dan keluarganya yang kaya raya itu, makan gratis dan bisa melihat bentuk istananya semewah apa sih. Informasi yang aku himpun dari staff hostel, banyak sekali turis yang datang dari berbagai negara.

Selama 3 hari di Brunei, tidak banyak yang aku lakukan, banyak bengong dan santai tidak jelas. Tetap, aku pergi donk ke spot wisatanya yang menjadi daya tarik negeri mungil yang penuh minyak bumi itu. Dan secara tidak sadar, aku satu hostel dengan teman #CouchsurfingJakarta. Awalnya masih belum ngeh, karena cuma bertemu sekali saja. Setelah ngobrol panjang lebar, halah, ternyata kami berada dilingkaran komunitas yang sama. Dan dia-lah, baca #Ren, aku kenal dengan Indra, teman #CouchsurfingBrunei yang menjadi host #Ren. Intinya begitulah… Baca disini : Pilihan hostel di Brunei.

Untuk sekali makan, termasuk murah sih. Nasi Katok yang menjadi andalan makanan lokal hanya 1 – 1,5 Dollars. Atau makanan lainnya, sekitar 3 – 5 Dollars. Selera masing- masing. Tentu, makanannya halal.

Brunei tuh aman banget… Serius… Lah, apalagi yang penduduk lokalnya keluhkan. Rata- rata subsidi pemerintah. Mereka tinggal menikmatinya saja. Jadi, jalan- jalan sendirian itu sangat nyaman dan aman. Kemudian, karena minimnya kendaraan disana, udara disana masih fresh, tidak banyak polusi. 

Tidak ada kehidupan malam di Brunei. Jangan berharap bisa berpesta, ke pub, tidak ada. Lewat jam 8 malam, semua toko sudah pasti tutup. Ada mall tidak? Ada… Dan sepi. Starbucks, McDonald, Burger King bisa menjadi pilihan kamu buat rekreasi kalau bosan. 

Karena Brunei adalah negara yang mayoritas penduduknya Muslim, kamu disarankan untuk bawa pakaian yang sopan. Aku yang biasanya, kemana- mana pakai celana pendek koyak- koyak kayak gembel dan pakai sandal sepit doang, kali ini, pakai celana panjang plus sepatu santai. Walaupun Bahasa utama mereka adalah Melayu, mereka juga jago Bahasa Inggris. Kecuali pendatang. Hahahaha… Bicara soal pendatang, banyak sekali pendatang yang ke Brunei untuk beradu nasib. Aku saja, trip ke Brunei seperti trip ke daerah mana gitu di Indonesia. Naik bus, supir dan kondekturnya pasti orang Indonesia bahkan penumpangnya sebagian besar juga orang Indonesia, makan, yang layani, pasti orang Indonesia. Ada juga yang dari Filipina dan Malaysia. 

Begitulah sekilas tentang Brunei. Tidak ada salahnya, kalau ada promo tiket murah, mampirlah ke Brunei. Tidak pernah ke sana, selamanya tidak pernah tahu. Pengalaman hanya menjadi pengalaman orang lain, tidak pernah menjadi pengalaman kamu. Setelah itu, kamu baru tahu, ooh… begini loh rupanya… 

Nah, selama di Brunei, tempat- tempat inilah yang aku kunjungi, selain masih banyak tempat keren lainnya.  
1. Masjid Sultan Omar Ali
Dekat banget dari hostel tempat aku nginap. Cukup jalan kaki saja sekitar 10 menitan-lah. Tidak ada entrance fee buat masuk ke kompleks Masjid megah ini. Ketika itu, mendung melanda, kayak hati ini sedang galau, hujan rintik kala itu memberi kesan setengah hati. Entah akan menjadi tambah deras atau berhenti sama sekali. Tapi dia tidak, rintikan itu sebentar hilang, sebentar datang lagi. Akibatnya, aku yang kayak kambing takut air, tidak mendapatkan kepastian. 

Hal kedua adalah, tempat paling strategis buat ambil foto sedang ada pekerjaan. Tidak tahu, pekerjaan seperti apa, yang jelas, dipagar seng. Masjid yang kubahnya terbuat dari emas itu, terlihat kokoh dan megah. Aku tidak masuk kedalam, aku lihat, sepertinya ada kegiatan keagamaan. 

2. The Royal Regalia Building.
Begitu beranjak dari Masjid Sultan Omar Ali, eh, rintikan itu malah ikut pergi. Aku putuskan ikutin jalan berkat peta yang aku ambil dari bandara. Cukup jalan kaki sekitar 10 menit juga, aku sampai di The Royal Regalia Building. Sayang, museum telah tutup. Sedikit kecewa, begitu juga dengan sepasang bule yang berniat melihat isi dalam museum itu. Aku yakin, benda- benda yang ada didalamnya pasti mewah dan berkelas. 

Karena tutup, tidak ada jalan lain lagi. Sudah jam 5 sore lebih, mendung datang lagi, aku bergegas jalan pulang saja. Biar bersantai saja di hostel, mengumpulkan tenaga untuk keesokan harinya.

Sempat mampir ke dermaga juga untuk melihat Kampung Ayer dari jauh. Haaha... Aku tidak mencoba naik kapal yang bisa kamu tumpangi buat sightseeing seputaran Kampung Ayer.

3. Istana Sultan
Begitu tiba di hostel, oleh staffnya ditanya gimana? Ngobrol ini itu, eh, dia bilang, kenapa tidak ke Istana Sultan saja sekarang. Masih ada bus kok, masih sempat buat pulang pergi-lah. Lagian malam hari, lebih bagus, ada lampunya yang menghiasi. Pikirku, boleh juga. Bergegas menuju terminal bus yang hanya beberapa langkah saja dari hostel. Tanya ke petugas yang ada disana, bus mana yang bisa bawa aku ke Istana Sultan. 

Cukup bayar 1 Dollar,  aku dituruni tepat didepan gerbang istana. Buset… Ini serius. Salam sama petugas penjaga gerbang, sedikit dicuekin, karena rupanya, Sang Sultan dan Istri sedang perjalanan pulang ke istana, posisinya sudah dekat. Mereka sedang persiapan penyambutan. Ya, berdiri tegak hormat gitu. Sedangkan aku, berdiri diam sambil bersiap kamera ditangan berharap Sultan menurunkan kaca jendela mobil dan da..da…da ke aku… #piak… mimpi… 

Setelah Sultan dan istri masuk, barulah, petugas penjaga gerbang banyak ngobrol denganku. Dari gosip istri ketiganya yang orang Malaysia sampai hal- hal sepele. Tidak banyak sih. Dan aku menjadi satu- satunya turis yang ada disana. 

Tidak ada yang bisa dilihat, serius. Kamu hanya melihat pagar gerbang tinggi. Cuma bisa mengintip kedalam yang pemandangannya tidak jelas apa itu. Istananya, tidak kelihatan. Bukan karena sudah malam. Menurutku, istananya masih jauh didalam sana.  Demikian, kemudian pulang naik bus yang sama dari seberang istana, turun di terminal yang sama. 

4. Masjid Jame`Asr Hassanil Bolkiah.



Sebelumnya, aku cukup terkejut ketika ketemu sama vihara. Ini sama sekali diluar dari apa yang pernah aku tahu tentang Brunei. Muslim semua, masjid dimana- mana, ternyata, ada chinesse juga di Brunei. Serius, aku terkejut. Aku mampir sembahyang sebentar, sebelum aku menuju ke Masjid`Asr Hassanil Bolkiah.

Cara yang sama, dari terminal naik bus 1 dollar, sampaikan pada petugas mau ke Masjid Jame`Asr Hassanil Bolkiah. Cukup jauh, hampir 30 menitan. Okey, aku bilang, kompleks masjid ini jauh lebih besar dibanding Masjid Omar Ali.

Disini, aku ketemu sekelompok turis dari China. Aku lihat, mereka antusias banget melihat bangunan yang begitu megah. Setiap sudutnya di foto.  Ngekor deh aku, pura- pura dalam group, padahal tidak kenal sama sekali, aku sih ngerti sedang ngobrol apa, tapi aku diam saja. Hahaha… 

Tapi, masjid ini sungguh agung dan megah. Apalagi malam hari, begitu lampu dinyalakan, ya ampun… luar biasa banget. Aku hanya menangkap momen indah itu lewat kedua bola mataku saja saat malam hari. Sumpah, indah banget.

5. The Mall – Gadong

Setelah dari Masjid Jame`Asr Hassanil Bolkiah, langsung ke The Mall. Jaraknya sudah dekat, kalau naik bus, masih searah. Yeps, mall-nya sepi. Terlihat mewah. Ada foodcourt, ada bioskop juga. Mungkin, pengunjung mall ini adalah penduduk asli lokal. Sedangkan pendatang tidak main ke mall ini. Hanya sebentar saja disini, penasaran saja, bagaimana bentuk mall dan isinya. 

Aku makan siang di seberang The Mall, atau yang dikenal dengan Gadong Mall. Karena terletak di Gadong. Makan nasi katok bayar 1 dollar, karena aku tambah sayur jadi 1,5 dollars. Ini makanan yang pas untuk dikantong.

6. Hotel Empire.

Tujuan selanjutnya Hotel Empire. Dan kali ini, aku kesana bareng #Ren. Perjalanan cukup lama. Khusus ke sini, butuh konfirmasi ke supir bahwa kamu mau ke Hotel Empire. Rute-nya memang ada kesana. Tapi jika tidak ada orang yang kesana, busnya tidak akan melewatinya. Bayar 2 dollars sekali jalan. Supirnya akan memastikan kamu jam berapa kelar sightseeing seputaran hotel. Karena dia akan kembali menjemput kamu. 

Hotelnya juga sebagai tempat wisata gitu. Turis boleh kesana secara bebas tanpa ada biaya masuk. Turis yang datang kesana, bisa langsung main ke pantai-nya yang terletak dibelakang hotel. Bangunan hotelnya mewah. Kami hanya ngobrol bego saja selama hampir 2 jam di bibir pantainya. 

7. Gadong Night Market.
Pasar malam ini didominasi oleh jualan makanan. Jangan bayangkan akan seperti pasar malam yang ada di Bangkok. Aku coba beberapa makanan lokalnya saja. Aku ke sini bareng dengan teman Couchsurfing. Setelah dari sini, kami pergi nonton. Harga tiketnya 10 dollars per orang. 
With Love,

@ranselahok
---Semoga semua mahluk hidup berbahagia---

Share on Google Plus

About ransel ahok

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

2 komentar :

  1. Info yang menarik, thanks for share.

    ReplyDelete
  2. Ini rencananya mau ke Brunei September besok, tapi masih meraba-raba (halagh) transportasi umumnya. Sudah baca sih yg bus 1 dolarnya, ada jadwalnya ga sih busnya? Disediain semacam maps gitu ga buat kasih tau rutenya. Thanks alot :)

    ReplyDelete

Powered by Blogger.

Popular Posts