Trip ASEAN : Kisah suka dan duka ( lainnya ) menuju Phnompenh , Kamboja


Perjalanan dari Simreap menuju Phnompenh meninggalkan kisah tersendiri yang tidak kalah seru nan mengesalkan juga. Dijemput dari hotel sekitar 1 jam siang, kami diantar ke terminal. Tiket bus yang kami beli dari supir tuk- tuk yang menjadi city tour guide kami 12 USD / orang. Terus katanya, bus itu super VIP , ada wifi dan toilet didalam bus. Dan rasanya mau langsung pingsan saja ketika melihat wujud asli dari bus yang akhirnya membawa kami sampai ditujuan dengan selamat. Bukan jelek- jelek banget, juga bukan karena harus campur dengan warga lokal, yang membuat kami KECEWA adalah kami ditipu oleh supir tuk- tuk itu. Yang katanya ada free wifi dan ada toilet , mana ????? Apalagi harga tiket asli cuma 4- 6 USD /orang. 

Rombongan bule yang satu bus dengan kami juga merasa tertipu. Mereka juga dijanjikan hal yang sama oleh agen perjalanan mereka. Hanya saja, mereka bayar 8 USD / orang. Tips nih buat kamu yang sedang atau akan melakukan trip ke Kamboja, terlebih, saat ingin naik bus dari satu kota ke kota lainnya disana, cek harga dibeberapa agen perjalanan dan pastikan apa yang mereka janjikan. Tapi apapun itu, inilah pengalaman liburanku yang seru walau kekesalan ikut serta. 

Hampir jam 9 malam, kami baru tiba di Phnompenh, Ibukota Kamboja. Telat 2 jam dari yang dibilang oleh supir tuk- tuk dan agen perjalanan bule- bule itu, yang seharusnya hanya butuh waktu 6 jam perjalanan saja. Model bus ini mirip damri, ber-AC , kursinya tidak terlalu nyaman, jangan bayangkan bus dari Singapore- KL ya. Berbeda ya. Naik turunkan penumpang menjadi salah satu faktor yang membuat perjalanan kami telat sampai ditujuan. Dan 2 kali berhenti di rest area untuk istirahat. Berhenti di rest area adalah suatu keharusan supaya supir bus tidak lelah. 


Selama berada didalam bus, bosan menjadi hal pertama yang saya rasakan. Pantat, kaki dan beberapa bagian tubuh lainnya merasakan stress yang bersamaan waktunya. Belum lagi, pikiran yang masih belum bisa move on dari perasaan kesal karena tertipu itu. Untunglah, ada tv didalam bus yang memutarkan lagu- lagu Kamboja yang bervideo klip. Tidak tahu, apakah lagu - lagu itu sedang hits atau tidak, dinyanyikan oleh artis yang terkenal atau tidak. Yang saya tau, mereka, orang- orang lokal, begitu senang dan tidak sedikit dari mereka, menikmati lagu itu bahkan ikut bernyanyi. Dan aku juga.


Melihat dari dekat, bagaimana aktifitas orang Kamboja dalam menjalankan kehidupannya. Bus melewati satu daerah ke daerah lainnya, banyak pemandangan yang menurutku sih jauh dari kata indah ya. Tapi, bagaimana rumah penduduk, pasar, sepeda , terminal, rest area, dan lainnya, saya lihat. Hampir sama dengan yang ada di Indonesia. Tentu, beberapa hal, seperti rest area , kita, Indonesia jauh lebih baik dibanding mereka. 


Sesampainya di Phnompenh, kami diturunkan di terminal bus. Sudah banyak sekali supir tuk- tuk yang menghampiri dan berusaha menawarkan jasa mereka. Bisa dibayangkan, sama seperti kita di Jakarta dan kota lainnya saat di terminal. Berpengalaman dari Simreap, kami tidak langsung memilih salah satu dari mereka. Kami memutuskan jalan lebih jauh dan mencari tuk- tuk yang tidak ikut dalam keramaian itu. Rupanya, kami diikuti, seorang supir tuk- tuk, perawakannya masih muda, keterbatasan dalam komunikasi bahasa Inggris. Dia melalui seorang teman, negosiasi dengan kami, saya tidak tahu, temannya itu siapa, atau mungkin juga bosnya. Kami mendapatkan harga cukup murah dibanding dengan tawaran pertama dan supir tuk -tuk lainnya. Karena itu, dia , si supir tuk - tuk mendapatkan protes dari teman- teman supir lainnya. Biaya jasa dari terminal menuju hotel 4 USD , dari harga penawaran mereka ada yang sampai 12 USD.  



Tiba di hotel sekitar jam 9.30 malam, setelah check in, sebelum naik ke kamar hotel, kami dihampiri supir tuk- tuk yang membawa kami ke hotel ini. Kami ditawarin kembali city tour. Pikiranku langsung terbang puluhan kilometer menuju ke Simreap dan wajah supir tuk- tuk yang menipu kami langsung terpampang nyata dihadapanku. Kami berdua, langsung tarik nafas dalam - dalam. Okey, lihat dulu bagaimana penawaran bapak supir satu ini. Kami bilang, besok ingin mengunjungi Mekong River, Royal Palace dan Killing Field. Harga deal 25 USD untuk 2 orang, tidak termasuk tiket masuk objek wisata. Dan kami akan dijemput di hotel besok pagi jam 10.



Lelah , letih dan lesu, capek dan hampir sudah tidak ada tenaga lagi, seharian ini penuh, dari bangun jam 4 pagi karena dijemput tuk- tuk untuk melihat sunrise dan lokasi syuting Angelina Jolie di Angkor Wat, Simreap. Lanjut naik bus menuju Phnompenh. Mandi dan ngobrol sebentar, kami tertidur pulas hingga keesokan harinya. Bangun sekitar jam 8 pagi, turun kebawah untuk sarapan. Menu sarapan di hotel ini, lumayan enak. Penyajiannya ditata dengan sederhana. Ada masakan lokal yang condong ke Asian Food, ada Western Food juga. Disinilah, kami menikmati makan pagi dengan santai selama perjalanan wisata kami. Karena, dari Bangkok, Pattaya hingga Simreap, selalu diburu waktu dan tuntutan itenary yang telah disepakati bersama. Pelan- pelan menyicipi kuliner yang telah disediakan pihak hotel. Bahkan, kami berulang kali menambah porsi. 




Kenyang dari sarapan pagi, tidak membuat kami semangat. Sebaliknya, membuat kami malas dan ingin menetap lebih lama di hotel. Tidak tahu kenapa, mungkin sudah diakhir liburan yang banyak menguras tenaga kami selama ini. Janji dengan supir tuk- tuk jam 10 juga lupa. Bermaksud ingin istirahat sebentar, bah.. keblablasan, ketiduran. Bangun sudah jam 11 siang. Buru- buru mandi, beres- beres dan sekalian check out. Kami hanya 1 malam saja di Phnompenh. Malam ini, jam 9 kami harus pulang ke Singapore, yang menjadi transit, negara terakhir aku dalam trip ini, dan si-teman, besok sudah harus masuk kerja. 


Ternyata, kami masih ditunggu supir tuk- tuk walaupun sudah lewat jam kesepakatan. Pihak hotel juga berusaha beberapa kali melakukan panggilan melalui iphone, tapi tidak berhasil Ya iyalah, kami sedang dalam alam bawah sadar. Tidur nyenyak. 


Dan pertualangan di Phnompenh dimulai. Dari salah pengertian si-supir tuk- tuk yang mengantarkan kami ke objek wisata yang salah, sehingga menghabiskan waktu 4 jam dengan sia- sia. Kehidupan Ibukota Kamboja, rutinitas keseharian, kota yang penuh dengan debu, jalanan berlubang dibeberapa titik. Kota yang biasa - biasa saja, kota yang mirip dengan kota Medan, Ibukota Propinsi Sumatera Utara. Kemudian mengunjungi megahnya Royal Palace dan melihat monumen kejamnya tentara Rezim Khmer Merah yang dikenal dengan Killing Field Choeung Ek. Tempat pembantaian puluhan ribu orang dimana sebagian besar dari mereka adalah para intelektual yang bukan buruh, atau pekerja kasar lainnya. 


Tungguin ya dipostingan berikutnya.. 

With Love,

-semoga semua mahluk hidup berbahagia-
Share on Google Plus

About ransel ahok

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

2 komentar :

  1. Sepertinya menyenangkan ya perjalanannya, saya belum pernah pergi ke luar negeri. Tapi semoga bisa kesampaian, hehe..
    Salam kenal. Mampir juga ke blog saya ya?
    http://www.dhezdhezkawaii.blogspot.com/

    Makasih :D

    ReplyDelete

Powered by Blogger.

Popular Posts