Hat-Hati Kena Gigit Serangga Di Hostel Sydney.

7 January 2018.

Walaupun sudah setahun berlalu, tapi itu menjadi pengalaman terburuk dalam hidupku dan tidak akan terlupakan. Serius. Bagaimana tidak? Harus mencari 4 dokter sampai berobat ke Penang hingga demam 1 minggu, baru akhirnya sembuh dari gatal- gatal dengan bentol- bentol gede disekujur tubuh.


Ceritanya ketika nginap 3 malam di Sydney setelah keliling Tasmania. Aku pilih Sydney Backpackers Hostel karena memang harganya tergolong murah dibanding hostel lainnya. Tapi alhasil, menderita 1 bulan. Kamar mixed dorm 12 orang. Per malam Rp 260.000,- per orang.

Saat checked in, akan dikasih seprei dan sarung bantal. Dan dikembalikan saat checked out. Taruh dibaskom yang sudah disediakan dekat tangga. Sebetulnya, ini artinya, mereka jarang bersih kamar tidur, terutama bagian ranjang.


Aku, waktu itu, pilih ranjang bawah dekat pintu. Cuma tersedia 2 ranjang kosong. Sistemnya, siapa datang duluan, ya pilih ranjangya duluan. Aku memang sadar, dekat pintu, ada tong sampah lumayan gede sih. Dan parahnya, isi tong sampah ada sisa makanan dari salah satu bule yang suka makan didalam kamar. 
Ada lift akses naik turunn..
Setelah pasang seprei dan sarung bantal, taruh tas dan simpan barang- barang yang rasanya tidak perlu dibawa kedalam loker yang sudah disediakan. Oh ya, senantiasa bawa gembok sendiri. Akupun cau... 

Dengan hati senang bersorak gembira, aku main ke Opera House dan disekitarnya. Hingga malam-pun tiba dan saatnya pulang untuk istirahat. Masak di dapur, seadanya, makan kemudian mandi. Untuk kebersihan dapurnya sih memang bukan yang jorok banget, tapi bukan yang bersih banget. Berminyak dan ada sampah berserakan. Tidak terlalu peduli juga sih. 

Living room.
Living room-nya tidak terlalu gede. Ada sofa dan tv. Ber-ac dan full wifi akses diseluruh ruangan. Ruang makan juga sekaligus di living room. Kamar mandi ada yang lumayan lega, ada juga yang kecil dan pas- pas-an. Intiya, masih oke sih. Sedangkan, staffnya, baik dan kalau ditanya, informatif. Aku sempat ngeprint beberapa kali disana. Dan itu free.


Penderitaan dimulai....

Ketika mau tidur, aku memang sadar, ada 1 biji, kayak kutu gitu pas didepan mata aku, dekat bantal. Ya aku buang si binatang itu. Aku mana tahu, kalau dia itu tidak sendiri, tapi segerombolan. 

Asik ngorok tengah malam, eehh terbangun karena ulah segerombolan kutu yang telah menggerogokin aku. Gatal banget. Gila... Aku garuk terus... Semakin digaruk semakin enak. Aku kan ada bawa obat oles anti serangga, aku pakai itu. Terus pakai minyak angin. Bergantian. Berharap, besok pagi bangun, tidak gatal lagi. 

Yang ada, terkejut. Bentolan merah gede- gede ada dimana- mana. Buset. Parahnya, itu gatal banget. Ampun DJ. Tidak terima. Akupun turun ke receptionist. Kasih tahu, ini loh. Kasih lihat, hasil liga pertandingan si kutu- kutu itu dibadan aku. Minta maaf dan mau dikasih laundry gratis. Tidak bisa pindah ke kamar lain, karena full. 


Sepanjang hari, sepanjang perjalanan di Sydney hingga ke Brisbane dan kembali ke Jakarta, itu gatal- gatal semakin menjadi- jadi. Terus bisa pindah tempat gitu. Sesampainya di Jakarta, malah demam. Ke dokter di Jakarta, diperiksa ini- itu, disuntik, dikasih obat minum dan oles. Entah apa saja obatnya. Tidak sembuh- sembuh. Demamnya memang sembuh. 

Garuk terus, terus garuk. Semakin garuk semakin enak euyy... Apalagi mandi, kan suka pakai air panas, sengaja kenain air panasnya ke bagian bentol - bentolnya, bedeuhh... enaknya, tidak karuan. Seminggu juga tidak ada tanda- tanda perubahan ke arah yang baik. Yang ada, ya itu, garuk terus. 

Kan ada trip ke Bali setelahnya. Dengan badan penuh bentol gitu, aku ke Bali. Saat di Bali, aku tidak tahan lagi. Sepanjang hari, garuk terus. Masalahnya, seperti menjalar gitu. Takutnya kan bukan karena digigit serangga. Apa darah kotor atau apalah? 

Lengan kanan -kiri, pundak, paha dan pinggul.. penuh bentol... Dan bergantian secara terus- menerus selama sebulan lebih.
Ke RS Siloam, direkomendasi ke dokter kulit. Dokternya sih kece, masih muda, kayaknya termasuk dokter kecantikan sih. Diperiksa. Katanya ini 100% digigit serangga, tidak perlu khawatir. Minta disuntik. Katanya tidak perlu. Cukup obat minum. Tambahan obat minum dan ganti obat oles selain yang dikasih dari dokter Jakarta. Baiklah. Katanya, dosisnya terlalu kecil. Tidak mempan. Ya sudah. 

Seminggu di Bali, tidak ada perubahan apapun. Oh ya, ada dikasih, cairan sabun mandi. Katanya biar tidak iritasi atau apalah. Karena masih tidak ada perubahan, setelah kembali pulang ke Jakarta. Akupun tidak berpikir panjang lagi.


Terbang ke Penang....

Sempat cerita ke beberapa kerabat, salah satu asumsinya sih bisa karena darah kotor. Dan selama proses garuk- menggaruk, aku tidak konsumsi seafood atau makanan yang bisa buat garukan semakin kencang. Termasuk telur, biar tidak bernanah. 

Sesampainya di Penang, direkomendasi ke salah satu dokter senior yang buka praktek sendiri. Pasiennya banyak banget. Giliranku tiba, si dokter yang sudah tampak sepuh ini, "mungkin" berpikir aku ada kena penyakit lain. Hahaha.. Asumsiku begitu, karena dia minta aku telanjang bulat, sampai anu juga diperiksa. Hahahaha... Periksanya juga pakai kaca pembesar segala. Sembari nyengir, si dokter tanya, ngapain saja kamu? Haizz... 

Dapat obat minum lagi dan obat oles baru lagi. 2 hari berlalu di Penang masih tidak ada perubahan. Aku cari lagi dokter di RS Penang Adventist Hospital. Antriannya memang tidak banyak. 

Disinilah titik terangnya...

Diambil sample kulit dari bentolan, diperiksa pakai mikroskop. Tanpa panjang lebar. Sang dokter, konfirmasi 100% gigitan serangga. Dan kalimat saktinya, mau makan berapa banyak obat atau mau disuntik berapa kalipun, kamu tidak akan bisa sembuh total . 

Kaget dong. Iya, katanya. Ini tidak berbahaya, karena bentolannya itu pindah- pindah bukan karena dari dalam darah. Melainkan ada gigitan- gigitan baru lagi. Artinya, serangganya mengikuti kemanapun kamu pergi.

OMG... Pantasan....

Satu- satunya cara, keluarin baju- baju, apapun yang dibawa ke Sydney, termasuk tas. Jemur dibawah matahari. Jemur disiang bolong, jemur disaat matahari sedang terik- teriknya. Cuci lagi. Jemur lagi.. Kalau tidak, kamu tidak pernah sembuh. Mungkin dia sudah pindah kemana- mana, sudah bertelur juga. Apalagi setelah cuci, kurang kena ke sinar matahari. Ya, dia tidak mati. Dan ini, harus benar- benar langsung kena matahari. Tidak perlu obat. 

Benar saja, 

Setelah ikutin saran dari si dokter. Sembuh total. Apapun yang aku bawa ke Sydney, aku keluarin. Aku jemur, benar- benar dibawah sinar matahari. Dibiarkan berhari- hari. Kemudian, dicuci ulang, terus jemur lagi. Sudah kayak keripik saja. 

4 dokter, habis tenaga, capek hati dan pikiran, menderita banget, 1 bulan lebih hingga ke Penang, yang tadinya mau hemat, malah jadinya semakin banyak habis. 

Artikel ini juga bukan untuk menjelekkan hostel ini. Aku hanya bagi pengalaman buruk yang pernah aku alami saja dari hostel ini. Ada baikknnya, bawa kain Bali atau kain apa gitu, untuk alas seprei dan bantal dari hostel. Atau paling tidak, tepuk- tepuk bagian atas ranjang dan bantalnya dulu, termasuk kalau ada selimutnya.. 

Aku jadi bawa sarung kemana- mana setelah kejadian ini. Tapi, aku malah kena lagi di KL, saat nginap di hostel ini. ( baca disini ). Waktu itu, aku juga bawa sarung. Tapi, karena aku pikir, sebelumnya, nginap di hostel KL ini tidak pernah ada masalah, ya sudah... Hahaha... Salah sendiri juga sih. Padahal, sebelumnya aku juga sarungan di hostel ini. 

Intinya, Sydney Backpackers Hostel menjadi HOSTEL TERPARAH yang pernah aku nginap sepanjang pengalaman traveling aku. Terlalu parah. AKU TIDAK AKAN BALIK LAGI KE HOSTEL INI. Nilainya 3 deh. Walaupun harganya murah dan lumayan dekat ke mana- mana. Transportasi juga tidak terlalu jauh. Mau ke Opera House, tinggal jalan lurus... 15 menitan, sampai deh. 

With Love,

@ranselahok
---Semoga semua mahluk hidup berbahagia---







Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar :

Post a Comment

Powered by Blogger.

Popular Posts